Hitaputra Agung Wardhana
RS Umum Pusat Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Seorang Laki-Laki Berusia 41 Tahun dengan Fistula Perianal Pengobatan TB on OAT: Laporan Kasus Mandarini Dwi Putri Aryati; Hitaputra Agung Wardhana
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fistel adalah hubungan abnormal yang berkembang antara dua bagian tubuh yang terpisah satu sama lain. Fistula ani terjadi akibat abses anorektal yang telah keluar dan merupakan fase kronis. Kasus ini mendeskripsikan pasien berusia 41 tahun yang datang ke Poli RSUP Surakarta dengan keluhan keluar cairan dari lubang di dekat anus setelah terdapat benjolan yang pecah. Berdasarkan klasifikasi kasus ini termasuk fistula simplex subcutaneus karena mempunyai satu saluran dengan satu lubang eksterna dan satu lubang interna. Fistula ani lebih sering terjadi pada laki-laki. Hampir semua fistula ani disebabkan oleh infeksi anal glands pada interspinchter plane dan juga merupakan manifestasi dari tuberkulosis. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisis dan penunjang didapatkan diagnosis fistula perianal dengan pengobatan TB on OAT. Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi Fistulotomi atau Fistulektomi merupakan baku emas untuk tatalaksana fistula parianal.
Seorang Laki-Laki Usia 75 Tahun dengan Emfisema Subkutis Farah Nabila Ryani; Hitaputra Agung Wardhana
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emfisema subkutis adalah kondisi dimana terdapatnya udara bebas pada jaringan subkutis dinding dada yang menjalar ke jaringan lunak di wajah, leher, dada atas, dan bahu. Tanda dan gejala emfisema subkutis bervariasi tergantung dari penyebab dan lokasi terjadinya. Tanda paling khas emfisema subkutis yaitu oedem dan krepitasi. Berdasarkan tingkat keparahan, emfisema subkutis dibagi menjadi 5 kategori. Penatalaksanaan pada kasus emfisema subkutis derajat berat dapat dilakukan dengan insisi subkutan dan drainase hingga cervical mediastinotomy sebagai opsi terakhir. Sementara itu, pada kasus emfisema subkutis yang bersifat ringan terapi khusus umumnya tidak diperlukan. Terapi juga perlu dilakukan pada penyebab yang mendasari emfisema subkutis. Komplikasi emfisema subkutis adalah gangguan pernafasan dan henti jantung. Laporan kasus ini akan membahas tentang perjalanan dan terapi pasien pasca kecelakaan lalu lintas. Tn. SS usia 75 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan sesak nafas dan bengkak pada hampir seluruh bagian tubuh. Selama perawatan didapatkan pneumothorax dan emfisema subkutis masif. Dilakukan penatalaksanaan dengan metode minimal invasif yaitu insisi multipel dan pemasangan WSD. Evaluasi fungsi paru dan komplikasi paska pembedahan dilakukan selama proses penyembuhan.