Jihan Chepy Fadhilah
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Akses Akses Pendidikan Formal Bagi Anak Dari Keluarga Mantan Penderita Kusta Di Kompleks Kusta Jongaya Jihan Chepy Fadhilah; St. Junaeda; Dimas Ario Sumilih
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63077

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akses terhadap pendidikan formal bagi anak dari keluarga mantan penderita kusta di Kompleks Kusta Jongaya Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Anak dari keluarga mantan penderita kusta menunjukkan semangat dalam bersekolah di tengah bayang-bayang stigma yang pernah menyelimuti tempat tinggal mereka, sehingga penting untuk memahami bagaimana sekolah mendukung proses pendidikan mereka saat ini. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif, dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi yang dilakukan oleh peneliti mengamati secara langsung terkait sikap pihak sekolah dan lingkungan sekitar. Wawancara dilakukan terhadap siswa, kepala sekolah, guru, orang tua dan masyarakat sekitar yang dipilih dengan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kebijakan dan Akses Pendidikan Formal di SD Inpres Maccini Baru menerapkan pendidikan inklusif melalui pembebasan biaya, kemudahan berkas, serta pendampingan pendaftaran daring. Kebijakan sekolah menghapus diskriminasi administratif sekaligus menyediakan keamanan emosional bagi siswa, (2) Pengasuhan disiplin dan perhatian harian orang tua membentuk motivasi serta ketangguhan mental (resilience) anak, sehingga mereka siap belajar dan percaya diri di sekolah umum, (3) Interaksi siswa terjalin harmonis tanpa sekat. Sesuai teori Merton, dinamika ini memicu fungsi laten (latent function) berupa leburnya jarak sosial secara alami, yang pada akhirnya sukses mematahkan stigma "kompleks pengemis".