I Gede Agus Sindhu Aditama
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

EFEKTIVITAS DAN KEAMANAN KOMBINASI IVERMECTIN-DIETHYLCARBAMAZINE-ALBENDAZOLE VERSUS DIETHYLCARBAMAZINE-ALBENDAZOLE ATAU ALBENDAZOLE-IVERMECTIN PADA KASUS FILARIASIS: SUATU KAJIAN CAKUPAN I Gede Agus Sindhu Aditama; Gusti Ayu Oviani
Midwinerslion : Jurnal Kesehatan STIKes Buleleng Vol 9 No 1 (2024): MIDWINERSLION Jurnal Kesehatan STIKes Buleleng
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/mjksb.v9i1.432

Abstract

Filariasis merupakan penyakit yang banyak dijumpai di negara tropis disebabkan oleh infeksi Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori melalui vektor nyamuk dari genus Culex, Anopheles, dan Aedes sp. yang membawa mikrofilaria. WHO menerapkan strategi Mass Drug Administration dengan menyarankan penggunaan antiparasit seperti ivermectin, diethylcarbamazine, dan albendazole untuk pengobatan filariasis. Saat ini, pelaksanaan penelitian mengenai efektivitas dan keamanan kombinasi tiga obat ivermectin-diethylcarbamazine-albendazole [IDA] hanya melibatkan sedikit negara. Kajian ini bertujuan untuk memetakan sejauh mana bukti yang mendukung efektivitas dan keamanan penggunaan kombinasi tiga terapi Ivermectin-Diethylcarbamazine-Albendazole [IDA] dibandingkan kombinasi dua terapi Diethylcarbamazine-Albendazole [DA] atau Ivermectin-Albendazole [IA] pada subjek dengan filariasis. Suatu kajian cakupan (scoping review) dilakukan dan dilaporkan berdasarkan panduan dari PRISMA dengan pencarian artikel pada database PubMed dan ScienceDirect dengan sejumlah 8 artikel memenuhi kriteria kelayakan. Sejumlah 6 dari 8 artikel terpilih menunjukkan kombinasi IDA lebih efektif untuk terapi filariasis dibandingkan kombinasi DA atau IA, namun berdasarkan keamanan terapi dilihat dari adanya efek yang tidak dikehendaki (adverse effects/AEs) lebih sering terjadi pada kelompok IDA daripada DA atau IA. AEs yang sering terjadi berada pada tingkat ringan sampai sedang seperti kelelahan, sakit kepala, arthralgia, mual, muntah, dan nyeri abdominal. Kesimpulan kajian cakupan ini adalah kombinasi terapi IDA lebih efektif dalam pembersihan mikrofilaremia maupun perubahan negatif nilai circulating filarial antigen (CFA) dibandingkan DA atau IA. Berdasarkan keamanan terapi, pemberian IDA dapat ditolerensi dengan baik oleh subjek. AEs lebih sering terjadi pada kelompok IDA dengan jenis AEs ringan hingga sedang.