Driver behavior merupakan aspek penting dalam keselamatan berkendara di lingkungan kerja karena perilaku berkendara yang tidak aman dapat meningkatkan risiko kecelakaan, pelanggaran lalu lintas, serta gangguan terhadap kelancaran operasional perusahaan. Distres psikologis dan sikap terhadap keselamatan berkendara menjadi dua aspek psikologis yang relevan untuk dikaji karena keduanya berkaitan dengan konsentrasi, penilaian risiko, kepatuhan, dan kecenderungan perilaku pengendara saat menjalankan aktivitas operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dan arah hubungan antara distres psikologis dan sikap dengan driver behavior pada pengendara mobil dan motor operasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Responden penelitian berjumlah 71 pengendara operasional yang terdiri atas pengendara mobil dan motor. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk mengukur distres psikologis, Questionnaire of Attitudes toward Road-Traffic Compliance (QAR-C) untuk mengukur sikap, dan Driver Behavior Questionnaire (DBQ) untuk mengukur driver behavior. Analisis data dilakukan melalui uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji korelasi Spearman, dan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distres psikologis memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan driver behavior dengan nilai Spearman’s rho sebesar -0,238 dan p-value 0,046. Sikap juga memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan driver behavior dengan nilai Pearson correlation sebesar -0,623 dan p-value < 0,001. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi distres psikologis dan semakin permisif sikap pengendara terhadap perilaku berkendara berisiko, maka skor driver behavior cenderung menurun. Dengan demikian, faktor psikologis dan sikap perlu diperhatikan dalam pengelolaan keselamatan pengendara operasional.