Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Analisis Kapital Sosial Dalam Komunikasi Internal Guna Membangun Reputasi (Studi Pada Sekolah Tinggi XYZ) Yasinta Ariati
Jurnal Komunikasi dan Bisnis Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis
Publisher : STARKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/jikb.v3i1.155

Abstract

“Sekolah Tinggi XYZ” as Private Higher School (PTS) is essential for professionally managed in order to improve the quality of education. Social capital is believed to be one of the major components in driving effective organizational performance. Therefore, the purpose of this study was to determine how the social capital that is network, norms and beliefs to form the internal communication that exists in the institution “Sekolah Tinggi XYZ”. The theory used in this study is the social capital by Putnam, the social capital in the context of the organization, seen as a network, norm, and confidence (trust). Putman’s theory corroborated by Fukuyama's theory that discuss the beliefs and they equipped with the concepts of organizational communication and reputation. The method in this research is descriptive, with a qualitative approach. Collecting data with in-depth interviews, observation and document study with research key resource 5 people consisting of 1 superior and 4 lecturers and an important resource as much as 5 lecturers. Research on leadership is using triangulation source to see the document as a data verification tool. The results showed that the norms prevailing in the institution of “Sekolah Tinggi XYZ” was not functioning optimally, so the network is awakened less strong where social cohesion frays trust formed consequently also become weak. This has implications for organizational performance less effective that can be assessed by external stakeholders so that in the long term can be a threat to the establishment of a reputation in the context of college competition increasingly fierce. Sekolah Tinggi XYZ sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) penting untuk dikelola secara profesional demi peningkatan kualitas pendidikan. Kapital sosial dipercaya sebagai salah satu komponen utama dalam menggerakkan kinerja organisasi yang efektif. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana kapital sosial yaitu jaringan, norma dan kepercayaan yang terbentuk dalam komunikasi internal yang terjalin pada lembaga Sekolah Tinggi XYZ. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah kapital sosial oleh Putnam, yaitu kapital sosial dalam konteks organisasi, dilihat sebagai jaringan (network), norma (norm), dan kepercayaan (trust). Teori Putman dikuatkan dengan teori Fukuyama yang membahas mengenai kepercayaan dan dilengkapi dengan konsep-konsep mengenai komunikasi organisasi dan reputasi. Metode dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan datanya dengan wawancara mendalam, dan studi dokumen dengan narasumber kunci penelitian 5 orang terdiri dari 1 orang pimpinan dan 4 orang dosen, dan narasumber penting sebanyak 5 orang dosen. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dengan melihat dokumen sebagai alat verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma (norms) yang berlaku dalam lembaga Sekolah Tinggi XYZ belum berfungsi secara maksimal, sehingga jaringan yang terbangun kurang kuat dimana kohesi sosial menjadi renggang (network) akibatnya kepercayaan (trust) yang terbentuk juga menjadi lemah. Hal ini berimplikasi pada kinerja organisasi yang kurang efektif yang dapat dinilai oleh pemangku kepentingan eksternal sehingga dalam jangka panjang dapat menjadi ancaman bagi terbentuknya reputasi dalam konteks persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat.
Analisis Semiotika Representasi Budaya Tionghoa dalam Film Crazy Rich Asians Tjhing Tjhing; Yasinta Ariati
Jurnal Komunikasi dan Bisnis Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis
Publisher : STARKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/jikb.v7i2.758

Abstract

Film is a mass communication media that cannot be separated from the relationship between film and society. The Crazy Rich Asians movie directed by Jon M.Chu and writer by Kevin Kwan is not onlyfor the entertainment media of the audience but an education that provides insight and experience regarding the touch of history, culture, language, life of people of Chinese descent. For example about the inherent characteristics between the people of "Overseas Chinese" and "Mainland China". This research was conducted to determine the signs or symbols used as cultural representations in the film Crazy Rich Asians. The method used for this research is descriptive qualitative using Christian Metz's mise-en-scene. In the study, researchers used several relevant theories, namely:Intercultural Communication, Face Negotiation Theory, Semiotics, and Representations. Referring to the research objectives, the conclusion of this study is the representation ofculture in the Crazy Rich Asiansfilm is shown through scenes by Rachel Chu and Nick Young in Singapura and the use of language and kinds of customs andfamily culture for generations like the meaning of the choice of red, party of wijayakusuma flower blooms, the reason for making dumplings, the meaning ofa family and the mahjong strategy game. Abstrak Film merupakan media komunikasi massa yang tidak lepas dari hubungan antara film dan masyarakat. Film Crazy Rich Asians yang disutradarai oleh Jon M.Chu dan penulis naskah Kevin Kwan tidak hanya untuk media hiburan penonton namun sarana pendidikan yang memberikan wawasan dan pengalaman mengenai sentuhan sejarah, kebudayaan, bahasa, kehidupan orang-orang keturunan Tionghoa. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tanda atau simbol yang digunakan sebagai representasi budaya dalam Film Crazy Rich Asians. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik analisis semiotika Christian Metz dengan menggunakan mise-en-scene. Pada penelitian, peneliti menggunakan beberapa teori yang relevan, yaitu : Komunikasi Antarbudaya, Teori Negosiasi Wajah, Semiotika, dan Representasi. Adapun hasil penelitian ini adalah Representasi budaya dalam Film Crazy Rich Asians ditampilkan melalui adegan-adegan oleh Rachel Chu dan Nick Young di Singapura dan penggunaan bahasa serta macam adat dan budaya keluarga yang turun menurun seperti makna pemilihan warna merah, pesta mekar bunga wijayakusuma, pembuatan pangsit, dan arti sebuah keluarga serta permainan mahjong.
Komunikasi Intrapersonal dan Konsep Diri pada Mahasiswa Rantau Studi Kasus: Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita Yasinta Ariati; Clarissa Sondang Irene
Jurnal Komunikasi dan Bisnis Vol 8, No 2 (2023): Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis
Publisher : STARKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/jikb.v8i2.941

Abstract

During their study period, overseas students experience challenges that are not easy because they live in a new environment and meet friends who are different in terms of culture and ways of communicating. They must be able to adapt to new situations and existing differences, so that they can carry out their studies well. The ability to adapt depends on how the self-concept is owned by the individual. Self-concept is one's belief or view of oneself. If someone sees oneself positively, one will develop self-confidence, be open to new things, be able to respect others and improve oneself. Conversely, if someone views oneself negatively, then the behavior that appears is feeling inferior and lacking self-confidence. The formation of self-concept depends on how the process of intrapersonal communication is carried out by someone. Intrapersonal communication is communication by talking to oneself in order to get to know oneself more fully. The process of intrapersonal communication that begins with sensation, perception, memory and thinking will eventually help to understand oneself and others. This study aims to find out how intrapersonal communication and self-concept of overseas students take part in the lecture process at School of Communication and Secretarial Study Tarakanita (STARKI). The research method used is descriptive qualitative with a total of 5 informants who are STARKI students, batch 2020 and 2021. The validity of this research data used triangulation data source. The result of this study manifests that most of STARKI students are able to carry out intrapersonal communication by processing existing sensations, perceptions and memories as material for thinking through self-reflection. It forms a positive self-concept that enables them to adapt to different environments and cultures. Therefore, it can be concluded that well managed intrapersonal communication will form a positive self-concept. Abstrak Dalam menjalani masa perkuliahan, mahasiswa rantau mengalami tantangan yang tidak mudah karena hidup di lingkungan yang baru dan bertemu dengan teman-teman yang berbeda dalam hal budaya dan cara berkomunikasi. Mereka harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru dan perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga mereka dapat menjalani studi dengan baik. Kemampuan dalam menyesuaikan diri tergantung pada bagaimana konsep diri yang dimiliki oleh individu. Konsep diri merupakan keyakinan atau pandangan seseorang mengenai dirinya. Apabila memandang diri positif maka akan mengembangkan sikap percaya diri, terbuka akan hal baru, mampu menghargai orang lain dan memperbaiki diri. Sebaliknya jika ia memandang dirinya negatif, maka perilaku yang muncul adalah merasa rendah diri dan kurang percaya diri. Pembentukan konsep diri tergantung bagaimana proses komunikasi intrapersonal yang dilakukan setiap orang. Komunikasi intrapersonal merupakan komunikasi dengan diri sendiri dengan cara berbicara kepada diri sendiri agar dapat lebih mengenal diri secara utuh. Proses komunikasi intrapersonal yang berawal dari sensasi, persepsi, memori dan berpikir akhirnya akan membantu memahami diri dan orang lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana komunikasi intrapersonal dan konsep diri mahasiswa rantau selama mengikuti proses perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita (STARKI). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jumlah informan sebanyak 5 orang yang merupakan mahasiswa STARKI, angkatan 2020 dan 2021. Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini adalah sebagian besar mahasiswa rantau di STARKI dapat melakukan komunikasi intrapersonal dengan cara mengolah sensasi, persepsi dan memori yang ada sebagai bahan untuk berpikir melalui refleksi diri. Hal ini, membentuk konsep diri yang positif yang memampukan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya yang berbeda. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi intrapersonal jika dikelola dengan baik akan dapat membentuk konsep diri yang positif.
Komunikasi Intrapersonal dan Konsep Diri pada Mahasiswa Rantau Studi Kasus: Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita Yasinta Ariati; Clarissa Sondang Irene
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis Vol 8 No 2: April 2023
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/ptjnja36

Abstract

Dalam menjalani masa perkuliahan, mahasiswa rantau mengalami tantangan yang tidak mudah karena hidup di lingkungan yang baru dan bertemu dengan teman-teman yang berbeda dalam hal budaya dan cara berkomunikasi. Mereka harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru dan perbedaan-perbedaan yang ada, sehingga mereka dapat menjalani studi dengan baik. Kemampuan dalam menyesuaikan diri tergantung pada bagaimana konsep diri yang dimiliki oleh individu. Konsep diri merupakan keyakinan atau pandangan seseorang mengenai dirinya. Apabila memandang diri positif maka akan mengembangkan sikap percaya diri, terbuka akan hal baru, mampu menghargai orang lain dan memperbaiki diri. Sebaliknya jika ia memandang dirinya negatif, maka perilaku yang muncul adalah merasa rendah diri dan kurang percaya diri. Pembentukan konsep diri tergantung bagaimana proses komunikasi intrapersonal yang dilakukan setiap orang. Komunikasi intrapersonal merupakan komunikasi dengan diri sendiri dengan cara berbicara kepada diri sendiri agar dapat lebih mengenal diri secara utuh. Proses komunikasi intrapersonal yang berawal dari sensasi, persepsi, memori dan berpikir akhirnya akan membantu memahami diri dan orang lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana komunikasi intrapersonal dan konsep diri mahasiswa rantau selama mengikuti proses perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita (STARKI). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jumlah informan sebanyak 5 orang yang merupakan mahasiswa STARKI, angkatan 2020 dan 2021. Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini adalah sebagian besar mahasiswa rantau di STARKI dapat melakukan komunikasi intrapersonal dengan cara mengolah sensasi, persepsi dan memori yang ada sebagai bahan untuk berpikir melalui refleksi diri. Hal ini, membentuk konsep diri yang positif yang memampukan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya yang berbeda. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi intrapersonal jika dikelola dengan baik akan dapat membentuk konsep diri yang positif.
Analisis Semiotika Representasi Budaya Tionghoa dalam Film Crazy Rich Asians Tjhing Tjhing; Yasinta Ariati
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis Vol 7 No 2: April 2022
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/zpw5ry39

Abstract

Film merupakan media komunikasi massa yang tidak lepas dari hubungan antara film dan masyarakat. Film Crazy Rich Asians yang disutradarai oleh Jon M.Chu dan penulis naskah Kevin Kwan tidak hanya untuk media hiburan penonton namun sarana pendidikan yang memberikan wawasan dan pengalaman mengenai sentuhan sejarah, kebudayaan, bahasa, kehidupan orang-orang keturunan Tionghoa. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tanda atau simbol yang digunakan sebagai representasi budaya dalam Film Crazy Rich Asians. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik analisis semiotika Christian Metz dengan menggunakan mise-en-scene. Pada penelitian, peneliti menggunakan beberapa teori yang relevan, yaitu : Komunikasi Antarbudaya, Teori Negosiasi Wajah, Semiotika, dan Representasi. Adapun hasil penelitian ini adalah Representasi budaya dalam Film Crazy Rich Asians ditampilkan melalui adegan-adegan oleh Rachel Chu dan Nick Young di Singapura dan penggunaan bahasa serta macam adat dan budaya keluarga yang turun menurun seperti makna pemilihan warna merah, pesta mekar bunga wijayakusuma, pembuatan pangsit, dan arti sebuah keluarga serta permainan mahjong.
INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GENERASI ALFA DI JABODETABEK Marcellina Nathasya Wibisono; Yasinta Ariati
Jurnal Ilmu Komunikasi Widyanita Vol 2: November 2024
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Generasi alfa adalah mereka yang lahir di tahun 2010-2025. Mereka unik karena lahir ke dalam dunia digital. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intensitas penggunaan smartphone terhadap efektivitas komunikasi antarpribadi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui kuesioner kepada generasi alfa di Jabodetabek. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lemeshow sebesar 100 responden dan ditarik menggunakan teknik nonprobability dan purposive sampling. Uji kualitas dan analisis data menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4% kontribusi pengaruh intensitas penggunaan smartphone (X) terhadap efektivitas komunikasi antarpribadi (Y) terutama pada sikap empati dan rendah hati, sedangkan 96% dipengaruhi oleh faktor lain tidak diteliti pada penelitian ini.
ANALISIS INTERPERSONAL DECEPTION PENGGUNA APLIKASI BUMBLE Christina Ayu Morisca Wiardani; Yasinta Ariati Ariati
Jurnal Ilmu Komunikasi Widyanita Vol 1: November 2023
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan ilmu pengetahuan teknologi berdampak pada munculnya berbagai macam aplikasi dalam media sosial salah satunya aplikasi pencarian jodoh yaitu Bumble. Dalam aplikasi tersebut sering terjadi penipuan maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui strategi interpersonal deception yang dilakukan oleh pengguna aplikasi percakapan Bumble dalam upaya mencari jodoh. Hal ini sesuai dengan teori interpersonal deception. Metode Penelitian kualitatif deskriptif, menggunakan data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dokumentasi, dan dianalisis secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan keseluruhan responden pengguna aplikasi Bumble menggunakan strategi interpersonal deception dalam komunikasinya, strategi interpersonal deception yang digunakan berupa pemalsuan foto profil, biodata, hingga hobi, menyembunyikan informasi yang sebenarnya, pengalihan topik sensitif dan tidak diinginkan, mengelak, hingga mengalihkan perhatian. Berbagai alasan melatarbelakangi informan melakukan interpersonal deception seperti mempertahankan keharmonisan hubungan, menghindari menyakiti perasaan, pembuktian diri dan menghindari konflik
Analisis Penggunaan Aplikasi Bumble Pada Generasi Z Dalam Mencari Pasangan (Studi di Jakarta dan Bekasi) Maudy -; Yasinta Ariati
Jurnal Ilmu Komunikasi Widyanita Vol 3 No 1: Juli 2025
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunculan aplikasi kencan daring telah mengubah cara Generasi Z membangun relasi personal, terutama di kota besar seperti Jakarta dan Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman pengguna aplikasi Bumble dalam mencari pasangan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi, melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang merupakan pengguna aktif atau pernah menggunakan Bumble. Berdasarkan sudut pandang Teori Stimulus-Respons, temuan ini menunjukkan bahwa respons pengguna dipicu oleh rangsangan tertentu dari lingkungan maupun kondisi psikologis mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi dan frekuensi penggunaan aplikasi berbeda-beda, tergantung pada dorongan emosional dan sosial seperti rasa kesepian, rasa ingin tahu, kebosanan, atau ajakan teman. Tujuan dan motivasi penggunaan tidak selalu sebatas mencari pasangan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengekspresikan diri, memperluas jaringan sosial, dan mengenal diri lebih dalam, terutama saat interaksi langsung terbatas. Informan juga merasakan manfaat seperti meningkatnya rasa percaya diri, keterampilan komunikasi, dan adanya ruang aman secara emosional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bumble memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan emosional Generasi Z, yang dipengaruhi oleh kebutuhan akan koneksi, penerimaan sosial, dan pengembangan pribadi.
Analisis Persepsi Pemilih Pemula Tentang Pramono-Rano Pada Pilkada Jakarta 2024 (Studi Pada Media Sosial Tiktok) Ratri Dwi Astuti; Yasinta Ariati
Jurnal Ilmu Komunikasi Widyanita Vol 3 No 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi kampanye politik di era digital telah menjadikan media sosial sebagai instrumen utama dalam membentuk opini publik, terutama di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pemilih pemula, khususnya Generasi Z di Jakarta dalam mempersepsikan Pramono–Rano melalui platform TikTok. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, data diperoleh dari wawancara mendalam dengan lima informan. Dengan merujuk pada Teori Komunikasi Intrapersonal dan Elaboration Likelihood Model (ELM), hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan persepsi pemilih pemula tentang Pramono-Rano terjadi melalui penilaian rasional terhadap visi-misi, rekam jejak yang relavan dengan tantangan Jakarta, keterikatan emosional atas sikap empatik mereka, serta kesesuaian gaya komunikasi dengan nilai-nilai pribadi pemilih. Kampanye yang memanfaatkan tren populer seperti konten jedag-jedug dan kolaborasi dengan influencer dianggap efektif dalam menyampaikan pesan politik secara menarik tanpa kehilangan substansi. Meskipun visual berperan penting, informan juga mencerminkan adanya proses reflektif terhadap isi pesan politik. Dengan demikian, TikTok terbukti menjadi media yang berpengaruh dalam membentuk persepsi politik pemilih muda, faktor rekam jejak jejak yang relavan, karakter kepemimpinan yang komunikatif, empatik, dan visioner menjadi faktor kunci dalam memperoleh dukungan dari Generasi Z pada Pilkada Jakarta 2024.
Analisis Komunikasi Digital Sociolla melalui Media Sosial Instagram Ernawaty; Yasinta Ariati
Jurnal Ilmu Komunikasi Widyanita Vol 4 No 1: Juli 2026
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/jikw.v4.i1.297

Abstract

Perkembangan komunikasi di era digital telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk strategi pemasaran. Media sosial menjadi salah satu sarana utama dalam strategi pemasaran termasuk di industri kecantikan dimana perusahaan memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Pemasaran melalui media sosial kini merupakan faktor kunci dalam mempertahankan daya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi pemasaran digital Sociolla melalui media sosial Instagram. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan dengan berbagai teknik secara terpadu melalui observasi komunikasi di akun media sosial Instagram @Sociolla dan wawancara mendalam terhadap lima informan yang terdiri dari tiga orang pengguna aktif Instagram dan pengikut akun Instagram Sociolla dan dua orang karyawan toko, para informan dipilih dengan menggunakan teknik purposive dimana mereka perlu memenuhi beberapa kriteria yang ditetapkan. Peneliti berperan sebagai instrumen utama penelitian. Penggunaan analisis isi (content analysis) sebagai teknik utama, yang merupakan bagian dari pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik triangulasi sumber digunakan untuk memastikan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi komunikasi digital Sociolla di Instagram berjalan secara efektif dan mampu menciptakan hubungan yang kuat antara brand dengan konsumennya serta membangun keterlibatan dan kepercayaan konsumen.