Agus Prastowo
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Pasien Karsinoma Serviks Residif post Debulking Melya Ummunnisa; Agus Prastowo; Dwi Sarbini
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker serviks merupakan kanker kedua terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan prevalensi 17,2%. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi HPV risiko tinggi yang memicu perubahan abnormal pada epitel serviks. Pasien stadium lanjut sering mengalami komplikasi serius seperti metastasis, obstruksi usus, dan adhesi organ pelvis. Terapi kemoterapi dan radioterapi menimbulkan efek samping yang memperburuk status gizi. Pada kasus karsinoma residif dengan komplikasi berat, operasi debulking meningkatkan stres metabolik dan risiko komplikasi pascaoperasi serta malnutrisi, yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas lebih tinggi. Pemberian asuhan gizi ini diharapkan mampu meningkatkan status gizi, mempercepat proses penyembuhan, serta menunjang keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien baik selama maupun setelah menjalani perawatan onkologi. Penelitian ini dilaksanakan di RS M Purwokerto pada April 2025 dengan desain deskriptif kualitatif. Asuhan gizi dilakukan selama lima hari, mencakup pemantauan asupan, parameter biokimia, serta kondisi fisik dan klinis pasien. Hasil menunjukkan perbaikan kondisi pasien secara bertahap, ditunjukkan oleh hasil pemeriksaan darah lengkap, tanda vital, fungsi sistem pencernaan, dan penurunan keluhan. Pasien menerima diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), dengan evaluasi sisa makanan menggunakan metode visual Comstock. Selama pemantauan pascaoperasi, terjadi peningkatan bertahap pada asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, serta vitamin dan mineral utama, meskipun belum memenuhi kebutuhan gizi harian. Dalam konteks ini, asuhan gizi terstruktur pascaoperasi berkontribusi positif terhadap pemulihan klinis pasien, menekankan pentingnya intervensi gizi individual dalam mendukung penyembuhan dan keberhasilan terapi.
Pemberian Bubur Tempe Tinggi BCAA pada Pasien Sirosis Hepatis: Laporan Kasus Rewinta Putri Denaru Kelimari; Dwi Sarbini; Agus Prastowo
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirosis hepatis merupakan penyakit hati kronis yang menyebabkan gangguan fungsi hati dan penurunan kadar asam amino rantai cabang (BCAA), yang berkontribusi pada malnutrisi. Asupan tinggi BCAA dikaitkan dengan perbaikan status gizi, pencegahan ensefalopati hepatikum, dan peningkatan kualitas hidup. Tempe, sebagai sumber BCAA nabati, berpotensi digunakan dalam intervensi nutrisi pasien sirosis. Laporan kasus ini membahas seorang wanita berusia 68 tahun dengan sirosis hepatis, ascites permagna, varises esofagus, dan riwayat ensefalopati hepatikum. Penilaian gizi menunjukkan status gizi kurang, penurunan nafsu makan, serta asupan protein sangat rendah (47,11%). Intervensi diet gizi seimbang diberikan dengan tambahan bubur tempe sebanyak 150 ml pada setiap makan utama selama empat hari rawat inap. Bubur tempe dibuat dari campuran tempe pasar 20 gram dan bubur nasi 30 gram, diblender halus, dan disesuaikan teksturnya agar mudah diterima pasien. Monitoring harian menunjukkan adanya perbaikan keluhan mual dan peningkatan asupan energi sebesar 41,89%, protein 67,77%, serta BCAA 50,25%. Hasil ini menunjukkan bahwa tempe sebagai sumber BCAA nabati dapat diterima dengan baik dan berpotensi meningkatkan asupan nutrisi pasien sirosis hepatis.