Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas V sekolah dasar yang masih didominasi oleh metode konvensional serta mengkaji dampaknya terhadap keaktifan peserta didik. Penelitian ini penting dilakukan mengingat tuntutan pembelajaran abad ke-21 menekankan keterlibatan aktif peserta didik melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan guru dan peserta didik, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah, tanya jawab sederhana, dan penugasan dengan guru sebagai pusat pembelajaran. Keaktifan peserta didik tergolong rendah, terlihat dari minimnya partisipasi dalam diskusi maupun bertanya. Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti ketiadaan proyektor dan media pembelajaran digital, memperkuat dominasi metode konvensional dalam proses pembelajaran. Penelitian ini terbatas pada satu kelas di sekolah dasar sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Meskipun demikian, penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai tantangan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila pada sekolah dasar dengan keterbatasan fasilitas, khususnya di wilayah pedesaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis keterkaitan antara dominasi metode konvensional, keterbatasan sarana prasarana, dan rendahnya keaktifan peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan sesuai dengan kondisi sarana sekolah. ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of Pancasila Education learning in fifth-grade elementary classrooms, which remains dominated by conventional teaching methods, and to examine its impact on student engagement. This study is significant as twenty-first-century learning requires active student participation through critical thinking, collaboration, communication, and creativity. This research employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews with teachers and students, and documentation. Data analysis followed the interactive model developed by Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that learning activities are still dominated by lectures, simple question-and-answer sessions, and assignments, with teachers serving as the primary source of instruction. Student participation remains relatively low, particularly in classroom discussions and questioning activities. Limited facilities, such as the absence of projectors and digital learning media, further reinforce the dominance of conventional methods. This study is limited to a single classroom setting, which restricts broader generalization. Nevertheless, it provides empirical insight into the challenges of implementing Pancasila Education in elementary schools with limited educational facilities, particularly in rural areas. The originality of this study lies in its analysis of the relationship between conventional teaching dominance, infrastructure limitations, and low student engagement. The findings offer practical contributions for developing adaptive and interactive instructional strategies suited to schools with limited resources.