Dita Aidila Syaharani Nasution
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN SISTEM ZAKAT DI QATAR DAN INDONESIA: PERSPEKTIF REGULASI, PENGELOLAAN, DAN DISTRIBUSI Dita Aidila Syaharani Nasution; Maryam Batubara
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i2.6043

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the impact of digital economic development on the competitiveness of micro, small, and medium enterprises in Indonesia. The focus of the study includes identifying supporting and inhibiting factors in digital economic development that affect the competitiveness of micro, small, and medium enterprises, as well as providing practical policy recommendations for the government and related parties. The research method used is a literature review, which synthesizes findings from scientific journals, government reports, and related research to provide an in-depth overview of this topic, as well as to explore research gaps related to the specific influence of the digital economy on the competitiveness of micro, small, and medium enterprises in Indonesia. The results of the study show that the digital economy provides great opportunities for micro, small, and medium enterprises, such as wider market access, increased operational efficiency, and export capabilities, but faces major challenges such as the digital divide, high technology costs, and a lack of digital literacy. The main supporting factors include the Proudly Made in Indonesia National Movement program, while inhibiting factors such as difficulties in accessing technology and capital remain major obstacles. The study concludes that although the digital economy has great potential, the challenges faced by micro, small, and medium enterprises require the active role of the government in optimizing digitization policies and reducing the digital divide. Practical policy recommendations include digital training, technology incentives, and increased access to capital to support micro, small, and medium enterprises in adapting to the digital economy.   Keywords: Zakat Management, Institutional Framework, Distribution Effectiveness, Islamic Philanthropy, Public Policy   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan sistem zakat di Qatar dan Indonesia dari aspek regulasi, kelembagaan, mekanisme pengelolaan, dan efektivitas distribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat. Qatar sebagai negara berpendapatan tinggi dengan sistem zakat yang terintegrasi dalam kebijakan sosial negara, menunjukkan model filantropi Islam yang didukung penuh oleh pemerintah dan lembaga resmi seperti Ministry of Awqaf and Islamic Affairs serta Qatar Charity. Sementara itu, Indonesia menerapkan sistem zakat dengan dualisme kelembagaan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang berperan penting dalam memberdayakan masyarakat miskin. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan pendekatan komparatif, menggunakan sumber data sekunder dari laporan resmi lembaga zakat, jurnal akademik, dan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem zakat di Qatar lebih terpusat dan terintegrasi dengan kebijakan negara, sementara di Indonesia lebih partisipatif dan berbasis masyarakat. Namun, tingkat efektivitas penyaluran zakat di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam aspek transparansi, digitalisasi, dan pemerataan distribusi. Kajian ini merekomendasikan sinergi antara model Qatar yang terpusat dan model Indonesia   Kata Kunci: Manajemen  Zakat,   Kerangka  Kelembagaan,   Efektivitas   Distribusi, Filantropi Islam, Kebijakan Publik
PARADOKS EKSPOR BIOMASSA: KEHILANGAN HUTAN, BERTAHANNYA TAMBANG BATUBARA, DAN KETIDAKBERUBAHAN KARBON Dita Aidila Syaharani Nasution; Maryam Batubara
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i2.6045

Abstract

Abstract: The global energy transition has driven increased use of biomass as a renewable energy source, particularly in the form of wood pellets traded across countries. Indonesia, with its vast tropical forest resources, is positioned as one of the world’s major biomass suppliers. However, several policy paradoxes emerge. The rise in biomass exports occurs alongside the continued dominance of coal in the national energy mix, ongoing forest degradation, and increasing vulnerability to ecological disasters such as floods, as seen in Aceh and other regions of Sumatra. This article aims to analyze the paradox of biomass exports in Indonesia by linking the dynamics of renewable energy trade, forest sector sustainability, coal dominance, and their implications for carbon emissions and hydrometeorological disaster risks. The study uses a qualitative approach through literature review and policy analysis of the energy and forestry sectors. The findings indicate that without strict biomass governance and integrated energy–environment policies, biomass exports risk creating an illusion of a global energy transition. Importing countries benefit from statistical emission reductions, while Indonesia bears the ecological burden in the form of deforestation, watershed degradation, and increased flood risk. This study emphasizes that biomass cannot be viewed as a single climate solution and is expected to contribute academically and inform policy strategies for energy transition.   Keywords: Biomassa, Coal, Deforestation, Flooding, Carbon Emissions, Energy Transition.   Abstrak: Transisi energi global mendorong peningkatan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan, khususnya dalam bentuk pelet kayu yang diperdagangkan lintas negara. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya hutan tropis, diposisikan sebagai salah satu pemasok utama biomassa dunia. Namun, ada beberapa paradoks kebijakan. Peningkatan ekspor biomassa berlangsung bersamaan dengan bertahannya dominasi batubara dalam bauran energi nasional, degradasi hutan, serta meningkatnya kerentanan wilayah terhadap bencana ekologis seperti banjir, sebagaimana tercermin dalam kasus banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya. Artikel ini bertujuan menganalisis paradoks ekspor biomassa di Indonesia dengan mengaitkan dinamika perdagangan energi terbarukan, keberlanjutan sektor kehutanan, dominasi batubara, dan implikasinya terhadap emisi karbon serta risiko bencana hidrometeorologi . Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis kebijakan terhadap sektor energi dan kehutanan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanpa tata kelola biomassa yang ketat dan integrasi kebijakan energi lingkungan, ekspor biomassa berpotensi menciptakan ilusi transisi energi global. Negara pengimpor memperoleh manfaat statistik pengurangan emisi, sementara Indonesia menanggung beban ekologis berupa deforestasi, kerusakan daerah aliran sungai, dan meningkatnya risiko banjir. Studi ini menegaskan bahwa biomassa tidak dapat dipandang sebagai solusi iklim tunggal dan diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dan rujukan kebijakan dalam merumuskan strategi transisi energi.   Kata Kunci: Biomassa, Batubara, Deforestasi, Banjir, Emisi Karbon, Transisi Energi.