Perceraian merupakan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dan dapat memicu respons psikologis, termasuk kecemasan. Dampak tersebut berpotensi semakin kuat dalam konteks budaya kolektivistik, seperti masyarakat Sunda di Bandung Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kecemasan pada individu yang sedang menjalani proses perceraian di Bandung Raya serta menguji peran durasi pernikahan, keberadaan anak, dan pendapatan bulanan sebagai prediktor kecemasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Partisipan terdiri atas 150 individu yang sedang menjalani proses perceraian di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Data dikumpulkan menggunakan Beck Anxiety Inventory versi adaptasi Indonesia dan kuesioner demografis. Analisis korelasi dilakukan sesuai dengan skala pengukuran masing-masing variabel, yaitu korelasi Pearson, Spearman, dan point-biserial. Sebelum analisis regresi berganda hierarkis dilakukan, uji asumsi klasik mencakup normalitas residual, linearitas, homoskedastisitas, multikolinearitas, independensi residual, dan outlier. Hasil analisis menunjukkan bahwa 68.7% partisipan mengalami kecemasan pada kategori sedang hingga berat. Analisis regresi hierarkis menunjukkan bahwa durasi pernikahan (β = .312, p < .001), keberadaan anak (β = .287, p < .001), dan pendapatan bulanan (β = −.245, p = .001) secara signifikan memprediksi kecemasan. Ketiga prediktor tersebut menjelaskan 34.2% varians kecemasan. Temuan ini menegaskan pentingnya asesmen dan intervensi psikologi klinis yang sensitif budaya bagi individu yang sedang menjalani proses perceraian, khususnya dalam konteks kolektivistik di Bandung Raya.