Maysa Az-Zahra
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Asbabul Wurud dan Tafsir Hadis Dalam Pendekatan Hermeneutika Vs Tradisi Klasik Maysa Az-Zahra
Al-Thiqah: Journal of Hadith and Prophetic Tradition Vol 6, No 1 (2026): Journal of Hadith and Prophetic Tradition
Publisher : Al-Thiqah: Journal of Hadith and Prophetic Tradition

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an memiliki peran sentral dalam pembentukan hukum, etika, dan praktik keagamaan umat Islam. Namun, pemahaman hadis tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan sosial yang melatarbelakangi kemunculannya. Dalam tradisi keilmuan klasik, konteks tersebut dikaji melalui konsep asbāb al-wurūd sebagai instrumen metodologis untuk menentukan maksud, cakupan, dan penerapan hadis. Sementara itu, perkembangan kajian kontemporer menghadirkan pendekatan hermeneutika yang menekankan dialog antara teks, konteks, dan pembaca guna menjaga relevansi hadis dalam realitas modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan fungsi asbāb al-wurūd dalam tafsir hadis klasik, menjelaskan prinsip dan metode hermeneutika dalam penafsiran hadis, serta membandingkan aspek epistemologis antara tradisi klasik dan pendekatan hermeneutika. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-analitis terhadap karya-karya ulama klasik dan pemikir hadis kontemporer. Analisis difokuskan pada dua hadis, yaitu hadis tentang niat dan hadis perintah mandi pada hari Jumat, sebagai contoh penerapan kedua pendekatan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi klasik menekankan stabilitas makna, otoritas sanad, dan kesetiaan pada konteks awal hadis melalui asbāb al-wurūd, sedangkan hermeneutika menekankan dinamika makna dan aktualisasi nilai moral hadis sesuai dengan konteks zaman. Meskipun berbeda secara epistemologis, kedua pendekatan tersebut tidak bersifat saling meniadakan, melainkan dapat saling melengkapi. Integrasi antara asbāb al-wurūd dan hermeneutika memungkinkan pemahaman hadis yang lebih komprehensif, autentik secara historis, dan relevan secara sosial.