Pola pembelajaran di pondok pesantren yang padat, yang ditandai dengan aktivitas membaca jarak dekat dalam waktu lama, dapat berkontribusi terhadap terjadinya kelainan refraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara jarak membaca dan durasi membaca dengan status refraksi pada santri putri di Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang. Jarak dan durasi membaca dinilai menggunakan kuesioner sebagai variabel independen, sedangkan status refraksi—yang diklasifikasikan menjadi miopia, hipermetropia, dan astigmatisme—ditentukan melalui pemeriksaan refraksi sebagai variabel dependen. Penelitian ini melibatkan 96 santri putri yang tinggal di asrama pondok pesantren, yang seluruhnya telah mengisi kuesioner dan menjalani pemeriksaan ketajaman penglihatan. Dari seluruh responden, sebanyak 50 santri dilaporkan membaca dengan jarak kurang dari 30 cm, sedangkan 46 santri membaca dengan jarak lebih dari 30 cm. Pada kelompok santri yang membaca dengan jarak kurang dari 30 cm, miopia merupakan kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan, yaitu pada 31 santri (62%), sedangkan 19 santri (38%) memiliki ketajaman penglihatan normal. Sebaliknya, pada kelompok santri yang membaca dengan jarak lebih dari 30 cm, status refraksi terbanyak adalah emetropia, yaitu sebanyak 31 santri (67,4%), sementara sisanya mengalami kelainan refraksi. Analisis chi-kuadrat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara jarak membaca dan status refraksi (p < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak dan durasi membaca berhubungan secara signifikan dengan status refraksi, sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya.