Nyeri lutut kronik merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering dijumpai pada lansia dan dapat menyebabkan pembatasan aktivitas fisik meskipun pasien masih tampak mandiri dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi ini berpotensi menurunkan performa fungsional dan meningkatkan risiko dekondisi apabila tidak teridentifikasi secara dini. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengenali keterbatasan fungsi pada lansia adalah skrining geriatri sederhana. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan peran skrining geriatri dalam mengungkap kebutuhan rehabilitasi medik berbasis fungsi pada lansia dengan nyeri lutut kronik. Dilaporkan seorang perempuan berusia 66 tahun yang datang ke poliklinik rawat jalan untuk kontrol rutin penyakit kronik dengan riwayat diabetes mellitus tipe 2 terkontrol, nyeri lutut kronik, gangguan penglihatan berupa katarak matur bilateral, serta gangguan pendengaran. Pasien datang menggunakan kursi roda, namun masih mampu berdiri dan berjalan secara mandiri. Evaluasi menggunakan Skrining Lansia Sederhana (SKILAS) menunjukkan keterbatasan pada domain mobilitas dan gangguan sensorik. Penilaian mobilitas melalui tes sit-to-stand membutuhkan waktu lebih dari 14 detik, yang mencerminkan penurunan performa fungsional ekstremitas bawah. Status nutrisi secara klinis tampak adekuat meskipun terdapat kehilangan gigi posterior. Penilaian kognitif menggunakan Clock Drawing Test tidak dapat dievaluasi secara valid akibat gangguan penglihatan yang bermakna. Kasus ini menunjukkan bahwa skrining geriatri sederhana dapat mengidentifikasi penurunan fungsi tersembunyi pada lansia dengan nyeri lutut kronik dan berperan penting dalam mendukung perencanaan rehabilitasi medik berbasis fungsi untuk mempertahankan kemandirian dan mencegah penurunan fungsi lebih lanjut.