Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIFITAS PELATIHAN EFIKASI DIRI DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP MOTIVASI KERJA ANGGOTA SATUAN BRIMOB POLDA MEDAN SUMATERA UTARA Cipto Winner Simanjuntak
Psychopedia Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol 4 No 1 (2019): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psikologi.v4i1.716

Abstract

A self-efficacy training model was developed and a study was launched in order to find how this training model and leadership could impact working motivation at North Sumatera Mobile Brigade Police Forces in Medan. This study is using quantitative experiment method, which is pretest-posttest one group design. The sampling method is purposive, with 20 mobile brigade policemen. By running working motivation, self-efficacy, and leadership questioners the result shows 0.932 for motivation scale, 0.963 for self-efficacy, and 0.948 for leadership. All the results are reliable and valid as measuring instrument in this study. For the self-efficacy training model emerge value of r(0.000)<0.05, it points out It points out that there is significantly influence of self-efficacy to mobile brigade policemen after they receive treatment. Meanwhile there is no significantly influence from leadership to working motivation that appear from the value of r (0.359)>0.05 and R square 0.047 that lead leadership contribution only 4.7 % to working motivation. Although both self-efficacy and leadership appear to give significant value of contribution r (0.000) <0.05, which contributing determination 89.4 % and the regression equation Y = 12.369 + 0.808X1 - 0.018X2. Keywords: Self Efficacy Training, Leadership, And Working motivation Sebuah model penelitian dikembangkan, dan penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh model pelatihan efikasi dan kepemimpinan terhadap motivasi kerja anggota Satuan Brimob Polda Medan. Dengan menggunakan metode kuantitatif eksperimen, yaitu menggunakan one group pretest- postest design. Menggunakan metode pengambilan sample purposive sebanyak 20 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala, yang terdiri dari skala motivasi kerja, efikasi diri dan skala kepemimpinan, dimana reliabilitas skala motivasi sebesar 0.932, reliabilitas skala efikasi diri sebesar 0.963 dan skala kepemimpinan sebesar 0.948. Dimana ketiga skala tersebut sangat reliabel dan layak dijadikan alat ukur dalam penelitian ini. Hasil model pengembangan pelatihan efikasi diri menujukan signifikansi (p) sebesar 0.000 < 0.05, yang memiliki arti bahwa terdapat pengaruh model pengembangan pelatihan efikasi diri terhadap motivasi kerja anggota Brimob, sedangkan variabel kepemimpinan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi kerja, hal ini terlihat dari hasil p sebesar 0.359 >0.05 dan R square sebesar 0.047 dimana kontribusi kepemimpinan hanya sebesar 4.7 % terhadap motivasi kerja. Sementara hasil penelitian secara simultan nilai signifikansi efikasi diri dan kepemimpinan terhadap motivasi kerja sebesar 0.000<0.05, yang artinya bahwa terdapat pengaruh efikasi diri dan kepemimpinan terhadap motivasi kerja, dengan sumbangan determinasi sebesar 89.4 % dengan persamaan regresi Y = 12.369 + 0.808 X1- 0.018X2. Kata Kunci: Efikasi Diri, Kepemimpinan Dan Motivasi Kerja
KADAR CINTA PADA PASANGAN YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM PACARAN Cipto Winner Simanjuntak
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 1 No. 2 (2021): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v1i2.622

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang mengangkat kasus kekerasan dalam berpacaran dan alasan subjek masih mempertahankan hubungannya. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja di Medan dengan kriteria telan menjalani hubungan selama satu tahun lebih. Metode penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil yang ditemukan peneliti dalam penelitian terhadap 2 subjek penelitian AL dan PS serta didukung oleh subjek sekunder peneliti menemukan bahwa subjek AL dalam menjalani hubungannya yang paling dominan dari ketiga komponen cinta Stenberg yaitu komponen komitmen dan komponen gairah namun kekurangan dari hubungan mereka adalah komponen keintiman hal ini dikarenakan kurang adanya komunikasi diantara keduanya karena di saat bersama pasangan dari subjek AL ini cenderung mementingkan aktivitas bermain game dari pada berkomunikasi dengan pasangannya. Dari penelitian yang dilakukan peneliti menemukan juga bahwa AL sering mendapatkan kekerasan secara fisik dan juga emosional berupa ancaman. Alasan AL mempertahankan hubungannya karena AL sudah berhubungan seksual dengan pasangannya AL juga mengakui jika dirinya takut untuk melepaskan pasangannya karena nantinya tidak ada cowok yang menerima dirinya apa adanya. AL juga tidak bisa melepaskan pasangannya karena diancam oleh pasangannya jika sampe pergi dari kos dan hamil maka pasangannya tidak akan bertanggung jawab hal ini membuat AL sangat tertekan sehingga masih bertahan dengan pasangannya. This research is a qualitative research with a case study approach that raises cases of violence in dating and the reasons the subject still maintains the relationship. The subjects in this study were teenagers in Medan with the criteria of having been in a relationship for more than one year. This research method uses observation and interview methods. The results found by researchers in research on 2 research subjects AL and PS and supported by secondary subjects, researchers found that AL subjects in their relationship were the most dominant of the three components of Stenberg's love, namely the commitment component and the passion component. due to the lack of communication between the two because when they are with their partner, this Navy subject tends to prioritize playing game activities rather than communicating with their partner. From the research conducted by the researchers, it was also found that AL often received physical and emotional violence in the form of threats. The reason AL maintains his relationship is because AL has had sex with his partner AL also admits that he is afraid to let go of his partner because later there will be no guy who will accept him as he is. AL also couldn't let go of his partner because he was threatened by his partner if he left the boarding house and got pregnant, his partner would not be responsible, this made AL very depressed so he still stayed with his partner.