The museum, as a non-formal educational institution, plays a crucial role in introducing historical and cultural values to the public. However, in the digital era, museums are often perceived as less appealing to children who are more familiar with interactive visual entertainment such as digital games and social media. This condition has led to a declining interest among younger generations in museums and traditional culture. Recognizing this issue, the Community Service Team (PKM) from the Faculty of Communication Science, Universitas Tarumanagara, organized an outreach program at the Wayang Museum, Jakarta, aimed at rekindling children’s interest in museums through a participatory and educational tourism communication approach. The event was held offline on September 14, 2025, and involved children aged 8–12 from RPTRA Kebon Sirih. The activities included an educational tour, visits to immersive rooms featuring audiovisual experiences, and interactive question-and-answer sessions. The communication methods were adapted to the children's age levels through the use of simple language, engaging visual media, and a storytelling approach to introduce wayang (shadow puppet) characters. The results of the program indicated an increase in the children’s interest and understanding of wayang culture. They demonstrated enthusiasm and active participation throughout the activities. This initiative highlights that a well-designed tourism communication strategy can serve as an effective means to strengthen the museum’s role as an educational and child-friendly public space. Moreover, the activity supports the achievement of SDG 11—Sustainable Cities and Communities—by revitalizing museums as inclusive and sustainable spaces for cultural learning in the midst of digital advancement. Abstrak Museum sebagai lembaga edukatif non-formal memiliki peran penting dalam memperkenalkan nilai sejarah dan budaya kepada masyarakat. Namun, di era digital museum seringkali dianggap kurang menarik bagi anak- anak yang lebih akrab dengan bentuk hiburan visual interaktif seperti permainan digital dan media sosial. Kondisi tersebut menyebabkan minat generasi muda terhadap museum dan budaya tradisional semakin menurun. Menyadari hal ini, kegiatan tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ilmi Komunikasi Universitas Tarumanagara melaksanakan kegiatan di Museum Wayang, Jakarta, dengan tujuan menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap museum melalui pendekatan komunikasi pariwisata yang bersifat partisipatif dan edukatif. Kegiatan dilaksanakan secara luring pada 14 September 2025 dan melibatkan anak-anak binaan RPTRA Kebon Sirih berusia 8-12 tahun. Bentuk kegiatan meliputi tur edukatif, kunjungan ke ruang immersive yang menampilkan pengalaman audiovisual, serta sesi tanya jawab interaktif. Metode komunikasi yang digunakan disesuaikan dengan usia anak-anak melalui penggunaan bahasa yang sederhana, media visual menarik, serta pendekatan storytelling untuk memperkenalkan tokoh-tokoh pewayangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan ketertarikan dan pemahaman anak-anak terhadap budaya pewayangan. Mereka tampak antusias dan aktif dalam berinteraksi selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini membuktikan bahwa strategi komunikasi pariwisata yang tepat dapat menjadi sarana efektif dalam memperkuat peran museum sebagai ruang publik yang edukatif dan ramah anak. Selain itu, kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs 11 yakni Kota dan Permukiman Berkelanjutan dengan menghidupkan kembali museum sebagai ruang pembelajaran budaya yang inklusif dan berkelanjutan di tengah kemajuan era digital