Rendahnya literasi keuangan digital masih menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya dalam pengelolaan arus kas dan pemanfaatan sistem pembayaran digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku UMKM perempuan di Kota Palangka Raya dalam melakukan pencatatan keuangan digital serta memanfaatkan QRIS sebagai instrumen pembayaran non-tunai. Kegiatan dilaksanakan pada Maret–April 2026 melalui metode pendampingan partisipatif yang meliputi profiling peserta, pelatihan pencatatan arus kas menggunakan Google Sheet, pendampingan aktivasi QRIS, serta pengenalan aplikasi pencatatan keuangan berbasis WhatsApp (CatatWA). Sebanyak 46 pelaku UMKM mengikuti program ini dengan dominasi sektor kuliner sebesar 78%. Hasil profiling menunjukkan bahwa 85% peserta belum pernah melakukan pencatatan keuangan secara digital dan 41% belum memiliki QRIS. Setelah pendampingan, sebanyak 22 peserta berhasil menyusun laporan arus kas digital dan mendokumentasikan implementasi pembayaran digital sebagai luaran program. Dari 22 peserta yang memiliki bukti capaian tersebut, 13 peserta (59%) telah memiliki QRIS sebelum program, 3 peserta (14%) berhasil mengaktifkan QRIS selama pendampingan, sedangkan 6 peserta (27%) menggunakan metode transfer sebagai alternatif akibat keterbatasan jaringan internet. Penggunaan CatatWA terbukti lebih mudah diadopsi dibandingkan spreadsheet, terutama bagi peserta yang hanya menggunakan smartphone. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pendampingan partisipatif yang dilaksanakan secara bertahap dan berbasis kebutuhan peserta mampu meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam melakukan pencatatan arus kas digital serta memanfaatkan pembayaran digital dalam kegiatan usahanya. Keberhasilan peserta menyusun laporan arus kas digital dan mengimplementasikan QRIS menunjukkan peningkatan kompetensi literasi keuangan digital yang mendukung transformasi digital UMKM di Kalimantan Tengah.