Hariyadi Hariyadi
Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penggunaan Bahasa dalam Media Sosial X untuk Mengungkapkan Permasalahan Akademik Mahasiswa (Analisis Wacana Kritis Akun @unsoedmfs) Elza Putra Azzura; Arizal Mutahir; Hariyadi Hariyadi; Sulyana Dadan
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 5 No 3 (2025): JUPIN Agustus 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.566

Abstract

Akun @unsoedmfs dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meluapkan berbagai permasalahan akademik. Dalam akun tersebut, ditemukan unggahan yang mengandung kalimat bernada menyinggung ataupun provokatif. Para pengguna juga kurang memperhatikan penggunaan bahasa. Pemilihan kata atau gaya bahasa tersebut memicu tanggapan negatif dari pengguna lain. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kegaduhan atau perdebatan di kolom komentar.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa pada akun @unsoedmfs dalam mengungkapkanĀ  permasalahan akademik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis data wacana kritis model Norman Fairclough. Penelitian ini fokus pada tiga dimensi, yaitu dimensi tekstual (mikrostruktural), praktik produksi teks (mesostruktural), dan praktik sosial budaya (makrostruktural). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan gaya bahasa informal, slang, singkatan, dan simbol emosional seperti emoji untuk mengekspresikan tekanan akademik. Unggahan-unggahan tersebut tidak hanya menjadi tempat curhat, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial kampus yang tidak bisa disampaikan secara langsung melalui jalur formal. Penelitian ini menemukan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai wadah interaksi sosial yang membentuk solidaritas, empati, dan wacana kolektif di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan dalam akun komunitas digital tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai praktik sosial yang mencerminkan ketimpangan relasi kekuasaan, kritik terhadap sistem, serta kebutuhan akan ruang aman dan bebas untuk berekspresi.