Akun @unsoedmfs dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk meluapkan berbagai permasalahan akademik. Dalam akun tersebut, ditemukan unggahan yang mengandung kalimat bernada menyinggung ataupun provokatif. Para pengguna juga kurang memperhatikan penggunaan bahasa. Pemilihan kata atau gaya bahasa tersebut memicu tanggapan negatif dari pengguna lain. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kegaduhan atau perdebatan di kolom komentar.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa pada akun @unsoedmfs dalam mengungkapkanĀ permasalahan akademik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis data wacana kritis model Norman Fairclough. Penelitian ini fokus pada tiga dimensi, yaitu dimensi tekstual (mikrostruktural), praktik produksi teks (mesostruktural), dan praktik sosial budaya (makrostruktural). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan gaya bahasa informal, slang, singkatan, dan simbol emosional seperti emoji untuk mengekspresikan tekanan akademik. Unggahan-unggahan tersebut tidak hanya menjadi tempat curhat, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial kampus yang tidak bisa disampaikan secara langsung melalui jalur formal. Penelitian ini menemukan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai wadah interaksi sosial yang membentuk solidaritas, empati, dan wacana kolektif di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan dalam akun komunitas digital tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai praktik sosial yang mencerminkan ketimpangan relasi kekuasaan, kritik terhadap sistem, serta kebutuhan akan ruang aman dan bebas untuk berekspresi.