Permasalahan energi global dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil mendorong upaya pencarian sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu solusi yang semakin dilirik adalah bioetanol, terutama jika diproduksi dari limbah organik seperti kulit jeruk yang memiliki kandungan selulosa cukup tinggi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi larutan NaOH dan lama fermentasi terhadap produksi bioetanol dari limbah kulit jeruk siam. Proses dilakukan di Laboratorium Biologi Dasar, Universitas Muhammadiyah Jember pada Februari–Maret 2025, dengan pendekatan eksperimen deskriptif. Pretreatment dilakukan menggunakan larutan NaOH 3%, 5%, dan 7%, kemudian dilanjutkan dengan hidrolisis HCl 0,5 M. Fermentasi berlangsung secara anaerob menggunakan Saccharomyces cerevisiae selama 3, 5, dan 7 hari. Kadar bioetanol diukur menggunakan alkohol hidrometer, sementara nilai pH diamati dengan pH meter digital. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi NaOH 7% dan fermentasi 7 hari menghasilkan kadar etanol tertinggi sebesar 43%, pH terendah 4,1, serta yield tertinggi sebesar 52,68%. Meningkatnya konsentrasi basa dan durasi fermentasi secara umum mendorong peningkatan konversi etanol. Hasil ini menunjukkan bahwa perlakuan alkali efektif mempercepat proses delignifikasi dan meningkatkan ketersediaan glukosa sebagai substrat fermentasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan bioenergi berbasis limbah, serta menjadi langkah awal untuk optimalisasi produksi bioetanol dari kulit jeruk lokal..