Apollo Apollo
Faculty of Economics and Business, Universitas Mercu Buana, Jakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Praksis Akuntansi Feminis-Mistis: Lacan, Kristeva, Beauvoir, dan Arendt pada Ritual di Kemukus, Kawi, dan Srandil Apollo Apollo
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara (Juli - September 2026)
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jpkn.v4i3.3789

Abstract

Makalah ini mengkaji persimpangan antara gender, mistisisme, dan praktik akuntansi di Gunung Kemukus, Gunung Kawi, dan Srandil melalui kacamata sosiologi akuntansi feminis kritis. Dengan mengacu pada karya-karya Lacan, Kristeva, Beauvoir, dan Arendt, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perempuan terlibat dalam praktik ekonomi berbasis ritual yang menantang sistem ekonomi formal dan rasional. Ekonomi yang berpusat pada perempuan ini tertanam dalam narasi spiritual, simbolisme tubuh, dan ingatan kolektif, yang mengungkap cara-cara di mana akuntansi terwujud dalam bentuk-bentuk fisik, afektif, dan simbolis yang menantang logika berbasis pasar. Dengan menggunakan etnografi feminis dan penelitian lapangan yang ditriangulasi, studi ini mendokumentasikan ritual, transaksi simbolis, dan kerja afektif perempuan. Analisis ini mengungkapkan bagaimana akuntansi beroperasi bukan sebagai pencatatan keuangan, melainkan sebagai mode relasional yang sakral dan bermuatan gender, yang tertanam dalam abjeksi, ranah imajiner-simbolis, ambivalensi Si Lain, dan natalisme. Kontribusi teoretis utamanya adalah perumusan “Akuntansi Mistis yang Terwujud dalam Perlawanan Feminis” (EMAFR), yang mengkonseptualisasikan akuntansi sebagai bentuk pertanggungjawaban budaya dan sensitif gender yang berakar pada mistisisme dan perlawanan. Pendekatan ini menyoroti agensi epistemik tubuh perempuan dalam menghasilkan bentuk-bentuk alternatif pertanggungjawaban, sekaligus menawarkan perspektif pluralistik, sensitif gender, dan pascakolonial.