Khansa Aqila Zahra
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SAPPHIC: PEREMPUAN DAN KULTUR KEPEREMPUANAN ATAU LESBIAN DALAM BASE @SAPPHICSFESS Khansa Aqila Zahra; Mita Rosaliza
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 9.A (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai sapphic sebagai identitas perempuan yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis dalam ruang digital sering kali berhadapan dengan stigma sosial. Kondisi ini juga dialami oleh pengguna akun base @sapphicsfess di platform X yang memanfaatkan media sosial sebagai ruang aman untuk mengekspresikan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sapphic dan kultur keperempuanan serta praktik frontstage dan backstage melalui anonimitas dalam ruang digital, penelitian ini juga berupaya memahami bagaimana interaksi digital membentuk pengalaman sosial pengguna dan bagaimana ruang virtual memediasi identitas minoritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap empat informan dan satu informan kunci yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta divalidasi melalui triangulasi, peneliti juga melakukan reduksi data dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Keabsahan data diperkuat melalui perbandingan antar sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa @sapphicsfess berfungsi sebagai ruang aman digital yang memungkinkan perempuan sapphic mengekspresikan identitas, berbagai pengalaman, dan membangun solidaritas. Kultur keperempuanan tercermin dalam penggunaan simbol identitas dan interaksi yang suportif. Anonimitas menjadi strategi penting yang mencerminkan praktik dramaturgi, yaiutu pemisahan antara frontstage dan backstage. Selain itu, interaksi yang terjadi memperlihatkan adanya dukungan emosional yang kuat antar pengguna. Dengan demikian, @sapphicsfess berperan sebagai counterpublic digital yang membantu pengguna membangun identitas serta melawan stigma dalam masyarakat heteronormatif. Ruang ini menjadi sarana resistensi terhadap norma dominan yang menekan kelompok minoritas. Keberadaannya memperkuat solidaritas dan rasa kebersamaan antar pengguna. Oleh karena itu, media sosial memiliki peran strategis dalam mendukung keberagaman identitas