Pembelajaran bahasa Arab bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di negara-negara Arab selama ini cenderung lebih menekankan pada Fusha (Bahasa Arab Standar Modern). Kondisi ini bertentangan dengan kebutuhan komunikasi sehari-hari di negara yang dituju, yang mengharuskan mereka untuk menguasai ‘Amiyyah (dialek lokal) yang bervariasi secara signifikan antar wilayah. Kesenjangan ini seringkali menjadi hambatan serius bagi TKI dalam beradaptasi secara sosial, efektif dalam bekerja, dan bahkan menjaga keselamatan pribadi. Penelitian ini mengkaji secara kritis apakah kurikulum dan materi pembelajaran bahasa Arab yang digunakan di lembaga pelatihan pra-pemberangkatan TKI telah memasukkan penemuan tentang dialektologi, khususnya mengenai variasi dialek di negara tujuan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui tinjauan literatur dan analisis dokumen, penelitian ini menemukan bahwa kurikulum dan materi ajar yang ada belum secara sistematis memasukkan variasi lahjah negara tujuan. Dialektologi, sebagai cabang linguistik yang mengkaji variasi dan penyebaran dialek, memberikan kontribusi penting dalam merancang materi ajar yang kontekstual, fungsional, dan relevan dalam komunikasi. Penelitian ini menegaskan bahwa dialektologi Arab berperan sebagai penghubung yang sangat penting antara Fusha yang diajarkan secara formal dan ‘Amiyyah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi pendekatan dialektologis ke dalam pengembangan kurikulum dan materi bahasa Arab untuk TKI adalah kebutuhan mendesak untuk memastikan kesiapan komunikatif dan adaptasi sosial budaya mereka di negara tujuan. Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya pembelajaran budaya negara tujuan sebagai bagian yang esensial dari penguasaan bahasa, mengingat bahasa dan budaya memiliki keterkaitan yang erat, yang dapat diperkuat melalui pendekatan sosiolinguistik.