Perkembangan Generasi Alpha digital sejalan dengan desakan aktor internasional yang bertindak sebagai norm entrepreneurs untuk mengonstruksi kesadaran kosmopolitan melalui Global Citizenship Education (GCED) SDGs Target 4.7. Namun, proses kaskade norma (norm cascade) universal ini menghadapi benturan ideasional di tingkat domestik. Penelitian literature review ini bertujuan memetakan rekonstruksi identitas global Generasi Alpha akibat penetrasi norma kosmopolitan sekuler melalui kurikulum internasional berbasis Barat di tengah kepungan algoritma digital dan guncangan krisis geopolitik kontemporer. Melalui penelusuran sistematis pada pangkalan data Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan SINTA, studi ini mengurasi 33 sumber data yang mengombinasikan dokumen kebijakan internasional dasar, karya teoretis utama, serta literatur empiris kontemporer (2020–2026), dengan fokus pada delapan literatur jangkar. Fenomena tersebut dibedah menggunakan kerangka teoretis Konstruktivisme Alexander Wendt, Teori Siklus Hidup Norma Martha Finnemore dan Kathryn Sikkink, serta Teori Lokalisasi Norma Amitav Acharya. Hasil sintesis literatur merumuskan proporsi konseptual bahwa sosialisasi norma GCED dalam kurikulum internasional tidak diproyeksikan untuk terinternalisasi secara linier, melainkan ditapis ketat oleh teologi Islam di sekolah. Ketika dihantam guncangan krisis geopolitik (Krisis Gaza) yang menghadirkan tekanan moral (moral leverage) di ruang siber, remaja awal Generasi Alpha diasumsikan mempraktikkan nilai spiritualitas Islam dan solidaritas antikolonial ke dalam instrumen kemanusiaan universal, membentuk Localized Religious-Global Identity. Secara teoretis, riset ini berkontribusi dalam mengisi kesenjangan penelitian sosiologi hubungan internasional kontemporer di Indonesia.