Pendidikan lingkungan di sekolah memerlukan lebih dari sekadar program penghijauan fisik; hal ini bergantung pada kapasitas kolektif para pemangku kepentingan untuk mewujudkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas dan kesiapan pemangku kepentingan dalam mempersiapkan Sekolah Adiwiyata di Desa Sidomulyo, Kecamatan Barumun Selatan, Kabupaten Padang Lawas. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, komite sekolah, orang tua, perangkat desa, dan perwakilan masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, penelusuran wilayah (transect walk), pemetaan pemangku kepentingan, diskusi kelompok terarah, wawancara, kuesioner, dokumentasi, dan pemantauan partisipatif. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PRA mengubah pemahaman pemangku kepentingan mengenai Adiwiyata dari orientasi yang dominan bersifat fisik menuju perspektif lebih luas yang mencakup budaya lingkungan, tata kelola kolaboratif, pembagian peran, integrasi pembelajaran, dan keberlanjutan program. Diagnosis partisipatif juga memperkuat rasa kepemilikan bersama dan menghasilkan rencana aksi awal yang didasarkan pada prioritas lokal. Pelibatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan pemangku kepentingan merupakan landasan strategis bagi kesiapan institusional sebelum pelaksanaan formal program Adiwiyata. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada perluasan cakupan intervensi lingkungan sekolah, dari sekadar aktivitas teknis menuju tata kelola partisipatif dan pengembangan kapasitas kolektif, khususnya dalam konteks sekolah di pedesaan.