Arief Rusyandy
Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Komunikasi Interpersonal Mediator Perkara Perceraian Arief Rusyandy
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 303-312
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.25452

Abstract

Abstrak. This study aims to examine the interpersonal communication of mediators in efforts to reduce divorce cases at the Religious Court of Bandung. Using a descriptive qualitative approach, data were gathered through observations, interviews, and documentation. The findings indicate that mediators apply five key qualities of interpersonal communication: openness, empathy, supportiveness, positiveness, and equality. Mediators employ religious approaches and explain the long-term impacts of divorce to reconcile couples. However, the mediation process faces significant obstacles, including the non-attendance of one party, a strong determination to divorce, and prolonged conflicts. Despite low rates of full agreement, effective interpersonal communication helps achieve partial agreements and reduces post-divorce hostility. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi interpersonal mediator dalam upaya menurunkan perkara perceraian di Pengadilan Agama Kota Bandung. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediator menerapkan lima kualitas komunikasi interpersonal, yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Mediator menggunakan pendekatan keagamaan serta pemahaman dampak jangka panjang perceraian untuk mendamaikan para pihak. Meskipun demikian, proses mediasi menghadapi hambatan utama seperti ketidakhadiran salah satu pihak, tekad bercerai yang sudah bulat, dan konflik berkepanjangan. Walaupun tingkat keberhasilan damai penuh masih rendah, komunikasi interpersonal yang efektif mampu mengarahkan pada kesepakatan sebagian serta mereduksi permusuhan pasca-perceraian.