Peningkatan kesehatan mental pada kelompok rentan, khususnya remaja dan lanjut usia (lansia), menjadi perhatian penting. Remaja berisiko mengalami depresi dan kecemasan akibat tuntutan adaptasi akademik dan sosial, termasuk di lingkungan pesantren dan lembaga pembinaan, sementara lansia rentan terhadap kesepian, isolasi sosial, depresi, dan penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi kualitas hidup serta kemandirian. Artikel ini mengintegrasikan tiga kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan literasi kesehatan mental, mendeteksi dini gangguan emosional, dan memperkuat strategi koping adaptif melalui edukasi serta skrining psikologis. Kegiatan menggunakan desain deskriptif potong lintang berbasis komunitas di Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara Kota Makassar, LPKA Kelas II Kabupaten Maros, dan Puskesmas Turikale Kabupaten Maros, meliputi penyuluhan interaktif, diskusi, tanya jawab, serta skrining menggunakan PHQ-9, GAD-7, dan GDS-15. Hasil pada 41 remaja pesantren menunjukkan mayoritas mengalami depresi ringan (63,4%) dan hampir separuhnya tanpa kecemasan (48,8%), dengan rerata skor PHQ-9 6,00 dan GAD-7 5,85. Pada 40 remaja binaan LPKA, sebagian besar mengalami depresi ringan hingga sedang (masing-masing 32,5%) serta kecemasan ringan (37,5%) hingga sedang (32,5%). Pada 20 lansia di Puskesmas Turikale, rerata skor GDS-15 sebesar 2,80, dengan 75% kategori normal dan 25% menunjukkan kemungkinan depresi. Peserta dengan kategori sedang hingga berat dirujuk untuk pendampingan lanjutan. Seluruh kegiatan memperoleh partisipasi yang baik, menegaskan bahwa integrasi edukasi kesehatan mental dan skrining psikologis merupakan pendekatan promotif-preventif berbasis komunitas yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dan mendukung deteksi dini gangguan psikologis pada berbagai kelompok usia.