Peningkatan produksi dan konsumsi kepiting bakau di Indonesia menghasilkan limbah cangkang dalam jumlah besar dan berpotensi mencemari lingkungan serta menimbulkan penyakit apabila tidak dikelola dengan baik. Di sisi lain, sampah plastik yang sulit terurai masih menjadi ancaman serius bagi lingkungan di Indonesia sehingga diperlukan alternatif bahan yang lebih ramah lingkungan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bioplastik berbahan dasar kitosan dari limbah cangkang kepiting bakau besar (Scylla serrata) dengan variasi penambahan gliserol dan volume air. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode solution casting dengan membuat lima variasi sampel bioplastik yang dibedakan berdasarkan jumlah gliserol dan volume air. Karakteristik bioplastik kemudian diuji dalam tiga aspek, yaitu tensile strength, biodegradability, dan daya serap air untuk mengetahui kualitas bioplastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gliserol yang tepat dapat meningkatkan nilai kuat tarik secara signifikan. Sampel 5 menghasilkan nilai kuat tertinggi sebesar 286,65 N/mm2, sedangkan sampel 3 memiliki nilai terendah sebesar 36,75 N/mm2. Seluruh sampel menunjukkan tingkat biodegradabilitas sebesar 100% dalam waktu 3 hari. Namun, bioplastik ini masih memiliki kekurangan yaitu daya serap air yang masih tinggi dengan persentase terendah sebesar 89,1% pada sampel 5 dan persentase tertinggi sebesar 92,8% pada sampel 4. Hal ini menunjukkan bahwa bioplastik yang dihasilkan masih memiliki keterbatasan penggunaan sebagai pengganti plastik konvensional, khususnya untuk penggunaan yang memerlukan ketahanan terhadap air. Dengan demikian, limbah cangkang kepiting bakau berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik yang ramah lingkungan.