Artikel ini membahas ketidakstabilan ruang sebagai bentuk perlawanan terhadap wacana kolonial. Menurut Sara Upstone, ruang yang cair merupakan strategi pascakolonial untuk menentang struktur dan batas-batas yang dibangun kolonialisme. Dalam konteks Hindia Belanda, keberadaan kolonial tidak sepenuhnya hilang setelah penjajahan berakhir, tetapi masih dapat dilihat melalui kelompok orang Indo, yaitu keturunan hasil perkawinan antara bangsa Eropa dan pribumi. Secara sosial, orang Indo ditempatkan sejajar dengan bangsa Eropa, tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya menginternalisasi identitas Eropa karena masih memiliki ikatan biologis dan kultural dengan dunia Timur. Berbagai upaya untuk mengadopsi nilai-nilai Barat sering kali dihadapkan pada resistensi yang muncul dari latar belakang ketimuran yang melekat pada diri mereka. Akibatnya, orang Indo berada dalam posisi ambivalen, yakni di antara dua identitas yang tidak sepenuhnya menyatu. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana ketidakstabilan identitas orang Indo menjadi strategi untuk mengganggu konstruksi kolonial. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian menganalisis novel Bayangan Memudar karya Breton de Nijs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh dan identitas orang Indo bersifat cair serta tidak sepenuhnya tunduk pada kategori kolonial. Kondisi ini membuka ruang resistensi yang melemahkan klaim kemurnian dan stabilitas identitas kolonial. --- This paper examines spatial instability as a form of resistance to colonial discourse through Sara Upstone’s postcolonial framework. Upstone argues that fluid space functions as a strategy for disrupting Western colonial narratives. Focusing on the Indo community, descendants of mixed marriages between Dutch colonizers and indigenous women, this study explores how their ambiguous identity positions them within a fluid “middle space” between East and West. Although Indos occupied a privileged status comparable to Europeans in the colonial hierarchy, they were unable to fully embody European values because their Eastern heritage continued to shape their bodies and identities. Consequently, their attempts to assimilate into European culture were continually challenged by traces of Eastern ancestry and cultural memory. Using a descriptive qualitative method, this paper analyzes Breton de Nijs’s Bayangan Memudar and demonstrates that the Indo body constitutes a fluid space that destabilizes colonial constructions of identity and power. While the presence of Indos helped sustain colonial authority in the Dutch East Indies, their inherent cultural and bodily hybridity simultaneously undermined the colonial order by revealing its internal contradictions.