Ahmad Murtadha
Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Furqan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DARI KESALEHAN SPIRITUAL MENUJU KESALEHAN EKOLOGIS: REKONSTRUKSI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS ETIKA LINGKUNGAN ISLAM Dedi Damhuji; Mallombasang Zainuddin; Ahmad Murtadha; Muhammad Tang; Sakkirang Mappatunru
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.14369

Abstract

The increasingly complex environmental crisis is not merely an ecological problem but is also closely related to moral, ethical, and spiritual issues concerning how humans interact with nature. Islamic Religious Education (PAI) holds a strategic position in developing students' awareness of human responsibility toward the environment as an integral part of practicing Islamic values. However, PAI learning still tends to emphasize spiritual and individual piety, while the dimension of ecological piety has not received proportional attention. This study aims to analyze the concept of ecological piety from the perspective of Islamic environmental ethics and to formulate a reconstruction of PAI learning that integrates spiritual piety with students' ecological responsibility. This research employs a qualitative approach using library research and an interdisciplinary perspective that integrates Islamic Religious Education, Islamic ethics, and environmental education. The data sources are analyzed through content analysis by examining Qur'anic verses, hadith, Islamic educational literature, and relevant scholarly studies on environmental ethics. The findings indicate that Islamic environmental ethics are founded on the principles of tawḥīd, khalīfah fī al-arḍ, trust (amānah), balance (mīzān), as well as the prohibition of environmental destruction (fasād) and excessive behavior (isrāf). These principles can serve as the foundation for reconstructing PAI learning through the integration of learning objectives, materials, learning processes, habituation, and evaluation oriented toward the development of ecological piety. This study proposes a paradigm in which students' piety is represented not only through ritual obedience and their vertical relationship with Allah but also through ethical responsibility for environmental sustainability. Therefore, PAI learning needs to shift from a predominantly individual-spiritual piety paradigm toward an integrative form of piety that unites spiritual, social, and ecological dimensions. ABSTRAK Krisis lingkungan yang semakin kompleks tidak hanya merupakan persoalan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan persoalan moral, etika, dan spiritual manusia dalam memperlakukan alam. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki posisi strategis dalam membentuk kesadaran peserta didik mengenai tanggung jawab manusia terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman. Namun, pembelajaran PAI masih cenderung berorientasi pada penguatan kesalehan spiritual dan individual, sementara dimensi kesalehan ekologis belum memperoleh perhatian yang proporsional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kesalehan ekologis dalam perspektif etika lingkungan Islam serta merumuskan rekonstruksi pembelajaran PAI yang mengintegrasikan kesalehan spiritual dengan tanggung jawab ekologis peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) dan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan perspektif Pendidikan Agama Islam, etika Islam, dan pendidikan lingkungan. Sumber data dianalisis melalui analisis isi dengan menelaah ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, literatur pendidikan Islam, dan kajian ilmiah yang relevan dengan etika lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa etika lingkungan Islam bertumpu pada prinsip tauhid, khalīfah fī al-arḍ, amanah, keseimbangan (mīzān), serta larangan melakukan kerusakan (fasād) dan tindakan berlebih-lebihan (isrāf). Prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi basis rekonstruksi pembelajaran PAI melalui integrasi tujuan, materi, proses pembelajaran, pembiasaan, dan evaluasi yang berorientasi pada pembentukan kesalehan ekologis. Penelitian ini menawarkan paradigma bahwa kesalehan peserta didik tidak hanya direpresentasikan melalui ketaatan ritual dan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga melalui tanggung jawab etis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, pembelajaran PAI perlu diarahkan dari paradigma kesalehan yang dominan individual-spiritual menuju kesalehan integratif yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis.
IMPLEMENTASI NILAI إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ DALAM PENGUATAN MENTAL DAN RESILIENSI PESERTA DIDIK Dedi Damhuji; Mallombasang Zainuddin; Ahmad Murtadha; Muhammad Tang; Juhasdi Sjahhusono
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.15313

Abstract

Mental health problems among students, including anxiety, academic stress, and low psychological resilience, have become important concerns in contemporary education. Meanwhile, educational approaches that emphasize cognitive aspects have not fully integrated the spiritual dimension as a source of mental strength. This study aims to: (1) analyze the concept of isti'anah in Qur'an Surah Al-Fatihah verse 5 based on scholarly interpretations; (2) identify the relevance of isti'anah to related psychospiritual constructs, including tawakal, patience, gratitude, religiosity, and religious practices; and (3) formulate the implementation of isti'anah in Islamic education as a conceptual framework for supporting students' mental strength and resilience. This study employed a qualitative approach using a library research design. The data sources consisted of the Qur'an, three major tafsir works, and 15 scholarly journal articles selected purposively based on thematic relevance, bibliographic traceability, and the availability of an active DOI or verifiable publisher information. Data were analyzed through source identification and selection, data extraction, thematic categorization, comparative analysis, and conceptual synthesis. The findings indicate that isti'anah in Qur'an Surah Al-Fatihah verse 5 represents a spiritual orientation that connects reliance on Allah with human effort. The literature synthesis indicates that psychospiritual constructs closely related to isti'anah, particularly tawakal, patience, gratitude, religiosity, and religious practices, are relevant to resilience, emotional regulation, optimism, stress management, and mental health. Based on this synthesis, the implementation of isti'anah can be carried out through the integration of tawhid into learning, habituation of worship and spiritual reflection, teacher role modeling, and the strengthening of a religious school culture. This study concludes that isti'anah can be positioned as a psychospiritual foundation that complements modern psychological approaches to strengthening students' mental health and resilience, although a direct causal relationship cannot be established through library research. ABSTRAK Krisis mental peserta didik berupa kecemasan, stres akademik, dan rendahnya daya tahan psikologis menjadi persoalan penting dalam dunia pendidikan kontemporer. Sementara itu, pendekatan pendidikan yang berorientasi pada aspek kognitif belum sepenuhnya mengintegrasikan dimensi spiritual sebagai sumber penguatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis konsep isti'anah dalam QS. Al-Fatihah ayat 5 berdasarkan penafsiran ulama; (2) mengidentifikasi relevansi isti'anah dengan konstruk psikospiritual yang berdekatan, seperti tawakal, sabar, syukur, religiusitas, dan praktik ibadah; serta (3) merumuskan implementasi nilai isti'anah dalam pendidikan Islam sebagai kerangka konseptual untuk mendukung penguatan mental dan resiliensi peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka (library research). Sumber data terdiri atas Al-Qur'an, tiga karya tafsir utama, dan 15 artikel jurnal ilmiah yang dipilih secara purposif berdasarkan relevansi tema, keterlacakan bibliografis, dan ketersediaan DOI atau identitas penerbit yang dapat diverifikasi. Data dianalisis melalui identifikasi dan seleksi sumber, ekstraksi data, kategorisasi tematik, analisis komparatif, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isti'anah dalam QS. Al-Fatihah ayat 5 merupakan orientasi spiritual yang menghubungkan ketergantungan kepada Allah dengan ikhtiar manusia. Sintesis literatur menunjukkan bahwa konstruk psikospiritual yang memiliki kedekatan dengan isti'anah, terutama tawakal, sabar, syukur, religiusitas, dan praktik ibadah, relevan dengan resiliensi, regulasi emosi, optimisme, pengelolaan stres, dan kesehatan mental. Berdasarkan sintesis tersebut, implementasi nilai isti'anah dapat dilakukan melalui integrasi tauhid dalam pembelajaran, pembiasaan ibadah dan refleksi spiritual, keteladanan guru, serta penguatan budaya sekolah religius. Penelitian ini menegaskan bahwa isti'anah dapat diposisikan sebagai landasan psikospiritual yang melengkapi pendekatan psikologi modern dalam penguatan mental dan resiliensi peserta didik, meskipun hubungan kausal langsung belum dapat dibuktikan melalui studi pustaka.