Mas’ulah Mas’ulah
Universitas Muhammadiyah Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTITAS DAN KEBINGUNGAN PERAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ARGANTARA KARYA FELISTIYANA: TINJAUAN PSIKOSOSIAL ERIK ERIKSON Nur Afifah; Mas’ulah Mas’ulah; M Ridlwan; R. Panji Hermoyo
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.14608

Abstract

ABSTRACT Adolescence in Argantara is not portrayed as a developmental stage that unfolds without pressure, but rather as an experience in which social demands confront individual readiness. This study explores how this issue is constructed through the narrative structure and the character’s environment, while also examining the transformation of the main character’s identity from the psychosocial perspective of Erik Erikson. A qualitative-descriptive approach was employed to examine Falistiyana’s novel Argantara. The data, consisting of words, phrases, sentences, dialogues, and narratives, were obtained through intensive reading and note-taking, then classified and interpreted according to the intrinsic elements, extrinsic elements, and identity versus role confusion. The findings reveal that themes of adolescent life, progressive plot development, characterization, and setting function as narrative devices that portray the character’s psychosocial transformation. Meanwhile, family, social environment, and cultural values serve as contexts that exert pressure while simultaneously shaping the character’s responses. Role confusion becomes most evident when the main character is required to assume the status of a husband while still being a student. The narrative subsequently depicts a shift from rejection and inner conflict toward increased responsibility, emotional regulation, acceptance of consequences, and a more mature identity. Thus, the novel positions adolescent identity as a dynamic process continually negotiated through the interaction between personal conditions and social demands. ABSTRAK Masa remaja dalam Argantara tidak digambarkan sebagai tahap perkembangan yang berjalan tanpa tekanan, melainkan sebagai pengalaman ketika tuntutan sosial berhadapan dengan kesiapan individu. Penelitian ini menelusuri bagaimana persoalan tersebut dibangun melalui struktur cerita dan lingkungan tokoh, sekaligus melihat perubahan identitas tokoh utama dengan menggunakan perspektif psikososial Erik Erikson. Kajian dilakukan secara kualitatif-deskriptif terhadap novel Argantara karya Falistiyana. Data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan narasi diperoleh melalui pembacaan intensif serta pencatatan, kemudian dikelompokkan dan ditafsirkan sesuai fokus unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, serta identity versus role confusion. Hasil kajian memperlihatkan bahwa tema kehidupan remaja, alur progresif, karakterisasi, dan latar menjadi perangkat yang menampakkan perubahan psikososial tokoh. Pada sisi lain, keluarga, lingkungan sosial, dan nilai budaya hadir sebagai konteks yang memberi tekanan sekaligus membentuk respons tokoh. Kebingungan peran paling kuat muncul ketika tokoh utama harus menjalankan status sebagai suami saat masih berstatus pelajar. Perjalanan cerita kemudian memperlihatkan pergeseran dari penolakan dan konflik batin menuju peningkatan tanggung jawab, pengendalian emosi, penerimaan konsekuensi, dan identitas yang lebih matang. Dengan demikian, novel ini memosisikan identitas remaja sebagai proses dinamis yang terus dinegosiasikan melalui pertemuan antara kondisi personal dan tuntutan sosial.
REPRESENTASI KEKERASAN DALAM NOVEL NAMAKU ALAM KARYA LEILA S. CHUDORI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA JOHAN GALTUNG Isma Sholihah; Mas’ulah Mas’ulah; M Ridlwan; Suher Suher
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.14610

Abstract

ABSTRACT The experience of violence in Namaku Alam does not end when past political events come to an end; instead, it continues to shape how characters are treated, perceived, and positioned within social life. Leila S. Chudori’s novel (2023) serves as the object of this study to explore how the legacy of violence operates through the interplay of actions, social structures, and cultural constructions. The study draws on Johan Galtung’s Triangle of Violence within the perspective of literary sociology, employing a qualitative-descriptive approach and content analysis. The data, consisting of words, phrases, sentences, dialogues, monologues, and narratives related to violence, were obtained through repeated reading and systematic note-taking, then classified and interpreted according to their contextual occurrence. The findings reveal three interconnected layers of violence. Direct violence appears through arrests, torture, murder, intimidation, insults, and sexual violence; structural violence operates through institutional discrimination, restrictions on rights and mobility, passport revocation, and exclusion; while cultural violence manifests through stigma, labeling, prejudice, bullying, and the normalization of exclusion. Their interconnectedness demonstrates that stigma can reinforce discrimination, discrimination can create space for direct violence, and the overall process sustains intergenerational trauma and injustice. ABSTRAK Pengalaman kekerasan dalam Namaku Alam tidak berakhir ketika peristiwa politik masa lalu selesai, tetapi terus hadir melalui cara tokoh diperlakukan, dinilai, dan ditempatkan dalam kehidupan sosial. Novel Leila S. Chudori (2023) tersebut menjadi objek kajian untuk menelusuri bagaimana warisan kekerasan bekerja melalui hubungan antara tindakan, struktur sosial, dan konstruksi budaya. Penelitian ini berpijak pada teori Segitiga Kekerasan Johan Galtung dalam perspektif sosiologi sastra, dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan teknik content analysis. Data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, monolog, serta narasi yang berkaitan dengan kekerasan diperoleh melalui pembacaan berulang dan pencatatan sistematis, kemudian diklasifikasikan serta ditafsirkan berdasarkan konteks kemunculannya. Hasil kajian memperlihatkan tiga lapisan kekerasan yang saling terhubung. Kekerasan langsung muncul melalui penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, intimidasi, penghinaan, dan kekerasan seksual; kekerasan struktural berlangsung melalui diskriminasi institusional, pembatasan hak dan mobilitas, pencabutan paspor, serta pengucilan; sedangkan kekerasan kultural beroperasi melalui stigma, pelabelan, prasangka, perundungan, dan normalisasi pengucilan. Keterhubungan ketiganya memperlihatkan bahwa stigma dapat menopang diskriminasi, diskriminasi membuka ruang bagi kekerasan langsung, dan keseluruhan proses tersebut mempertahankan trauma serta ketidakadilan antargenerasi.