Literasi bahasa Inggris merupakan keterampilan yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk bagi ibu rumah tangga yang berperan sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Namun, akses terhadap pembelajaran bahasa Inggris bagi ibu rumah tangga masih terbatas akibat kendala waktu, fasilitas belajar, serta rendahnya kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa asing. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memetakan tingkat literasi bahasa Inggris, hambatan pembelajaran, serta potensi pemanfaatan kearifan lokal sebagai dasar pengembangan program literasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang difokuskan pada tahapan To Look (pemetaan) dan To Think (analisis kebutuhan). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap ibu rumah tangga di RT 01 Kelurahan Sumur Dewa, Kota Bengkulu. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pemahaman bahasa Inggris yang masih terbatas pada kosakata dasar yang diperoleh selama masa sekolah. Selain itu, ditemukan berbagai hambatan, seperti kurangnya kesempatan belajar, keterbatasan waktu akibat aktivitas domestik, serta anggapan bahwa bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang sulit dipelajari. Meskipun demikian, mayoritas responden menunjukkan minat untuk mempelajari bahasa Inggris apabila materi disajikan secara sederhana dan dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari maupun potensi lokal yang mereka miliki. Temuan ini menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi program literasi bahasa Inggris berbasis kearifan lokal yang lebih inklusif dan sesuai dengan karakteristik masyarakat.