Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Negosiasi Identitas Diri dan Kesejahteraan Psikologis Generasi Z di Era Algoritma: Studi Fenomenologis pada Mahasiswa UIN Salatiga Reza Ahmadiansah; Hima Suyudho; Yuli Nur Ariyani
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.818

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana mahasiswa Generasi Z menegosiasikan identitas diri dan menjaga kesejahteraan psikologis dalam media sosial yang dipersepsikan dikurasi oleh algoritma. Studi menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis deskriptif terhadap 26 mahasiswa UIN Salatiga, terdiri atas 21 perempuan dan 5 laki-laki dari Program Studi Psikologi Islam dan Bisnis Digital. Data berupa wawancara semi-terstruktur dianalisis melalui adaptasi prosedur Colaizzi: pembacaan berulang, identifikasi pernyataan signifikan, perumusan makna, pengelompokan tema, perbandingan lintas kasus, dan sintesis struktur pengalaman. Enam tema ditemukan: kontinuitas dan segmentasi identitas; algoritma sebagai norma visibilitas; validasi digital sebagai pengakuan bersyarat; kesejahteraan yang ambivalen; perbandingan sosial sebagai ancaman sekaligus motor pertumbuhan; serta agensi digital melalui batas penggunaan, relasi luring, dan orientasi nilai. Sebanyak 24 partisipan mengakui perbandingan sosial setidaknya sesekali, sedangkan 19 melaporkan pernah atau kadang mengalami kecemasan, stres, atau tekanan setelah menggunakan media sosial. Namun, platform juga mendukung hiburan, informasi, ekspresi, keterampilan, dukungan, dan peluang kerja. Kebaruan penelitian terletak pada model negosiasi identitas algoritmik yang menempatkan kesejahteraan sebagai keluaran dari sirkuit timbal balik antara kurasi diri, audiens terbayang, metrik, dan perbandingan sosial. Nilai religius berfungsi sebagai jangkar makna bagi sebagian partisipan, tetapi tidak muncul sebagai koping dominan. Temuan mendukung intervensi literasi algoritmik, konseling kesehatan mental digital, dan penguatan batas digital berbasis relasi serta nilai.
Negosiasi Identitas Diri dan Kesejahteraan Psikologis Generasi Z di Era Algoritma: Studi Fenomenologis pada Mahasiswa UIN Salatiga Reza Ahmadiansah; Hima Suyudho; Yuli Nur Ariyani
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.818

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana mahasiswa Generasi Z menegosiasikan identitas diri dan menjaga kesejahteraan psikologis dalam media sosial yang dipersepsikan dikurasi oleh algoritma. Studi menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis deskriptif terhadap 26 mahasiswa UIN Salatiga, terdiri atas 21 perempuan dan 5 laki-laki dari Program Studi Psikologi Islam dan Bisnis Digital. Data berupa wawancara semi-terstruktur dianalisis melalui adaptasi prosedur Colaizzi: pembacaan berulang, identifikasi pernyataan signifikan, perumusan makna, pengelompokan tema, perbandingan lintas kasus, dan sintesis struktur pengalaman. Enam tema ditemukan: kontinuitas dan segmentasi identitas; algoritma sebagai norma visibilitas; validasi digital sebagai pengakuan bersyarat; kesejahteraan yang ambivalen; perbandingan sosial sebagai ancaman sekaligus motor pertumbuhan; serta agensi digital melalui batas penggunaan, relasi luring, dan orientasi nilai. Sebanyak 24 partisipan mengakui perbandingan sosial setidaknya sesekali, sedangkan 19 melaporkan pernah atau kadang mengalami kecemasan, stres, atau tekanan setelah menggunakan media sosial. Namun, platform juga mendukung hiburan, informasi, ekspresi, keterampilan, dukungan, dan peluang kerja. Kebaruan penelitian terletak pada model negosiasi identitas algoritmik yang menempatkan kesejahteraan sebagai keluaran dari sirkuit timbal balik antara kurasi diri, audiens terbayang, metrik, dan perbandingan sosial. Nilai religius berfungsi sebagai jangkar makna bagi sebagian partisipan, tetapi tidak muncul sebagai koping dominan. Temuan mendukung intervensi literasi algoritmik, konseling kesehatan mental digital, dan penguatan batas digital berbasis relasi serta nilai.