ABSTRACTBackground: Developing oral hygiene skills through oral health education is part of the sustainable development agenda that emphasizes the creation of healthy lives and well-being across all age groups. In children aged 10–12 years, proper tooth-brushing practices are still inadequate; in Banjarmasin, the proportion was recorded at only 7.7%. The situation at SDN SN Pasar Lama 3 also demonstrates the need for intervention, as 67% of students were found to have caries. Objective: To assess the effect of movement- and song-based education on tooth-brushing skills in children aged 10–12 years at SDN SN Pasar Lama 3 Banjarmasin. Method: This study was conducted with a pre-experimental design using one group that was observed before and after the intervention. The number of participants was 134 people, who were determined using a simple randomized technique. Tooth-brushing skills were assessed using an observation sheet based on the Fones technique in two measurement stages, namely before and after the educational activity was carried out. Statistical analysis began with a normality test using K-S, followed by a Wilcoxon signed rank test. Results: The mean toothbrushing skill score increased form 61,06 before the dance and song based educational to 87,65 after the intervention. This improvement was statistically significant (p<0.001). Conclusion: Dental health education packaged through movement and song activities can be considered as a strategic option in oral health promotion to strengthen elementary school children's ability to brush their teeth properly.Keywords : , Dance, Oral Health Education, Singing, Sustainable Development Goals, Toothbrushing. ABSTRAKLatar Belakang: Pembinaan kemampuan menjaga kebersihan gigi melalui edukasi kesehatan mulut merupakan bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan yang menekankan terciptanya kehidupan sehat dan kesejahteraan pada seluruh kelompok umur. Pada kelompok anak 10–12 tahun, praktik penyikatan gigi yang dilakukan secara tepat masih belum memadai; di Banjarmasin, proporsinya tercatat hanya 7,7%. Keadaan di SDN SN Pasar Lama 3 juga memperlihatkan perlunya intervensi, karena 67% peserta didik ditemukan mengalami karies. Tujuan: Menilai pengaruh edukasi berbasis gerak dan lagu terhadap kemampuan penyikatan gigi pada anak berumur 10–12 tahun di SDN SN Pasar Lama 3 Banjarmasin. Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan pra-eksperimen menggunakan satu kelompok yang diamati sebelum serta setelah intervensi diberikan. Jumlah partisipan sebanyak 134 orang, yang ditentukan melalui teknik acak sederhana. Kemampuan penyikatan gigi dinilai memakai lembar observasi berdasarkan teknik Fones pada dua tahap pengukuran, yaitu sebelum dan sesudah kegiatan edukatif dilakukan. Analisis statistik diawali dengan pengujian kenormalan menggunakan K-S, kemudian diteruskan dengan uji jenjang bertanda Wilcoxon. Hasil: Rata-rata keterampilan menyikat gigi sebelum diberikan penyuluhan dengan metode menari dan bernyanyi adalah 61,06 dan setelah penyuluhan meningkat menjadi 87,65.Peningkatan tersebut terbukti bermakna secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Edukasi kesehatan gigi yang dikemas melalui aktivitas gerak dan lagu dapat dipertimbangkan sebagai pilihan strategi dalam promosi kesehatan mulut untuk memperkuat kemampuan anak sekolah dasar dalam melakukan penyikatan gigi secara tepat. Kata kunci : Menari, Menyanyi, Menyikat Gigi, Penyuluhan, Sustainable Development Goals.