Background: Dental caries and malocclusion remain common oral health problems among school-aged children. Irregular tooth arrangement may hinder effective oral hygiene practices, resulting in greater plaque retention and an increased likelihood of dental caries. However, evidence regarding the association between these two conditions in Banjar ethnic children is still limited. Objective: To determine the relationship between the severity of malocclusion and caries status among Banjar ethnic students aged 11–12 years at SDN Sungai Andai 4, Banjarmasin City. Methods: An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted involving 45 students selected through purposive sampling. Malocclusion severity was assessed using the Dental Health Component (DHC) of the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), while caries status was evaluated using the Decayed, Missing, and Filled Teeth (DMF-T) index. The association between the variables was analyzed using Spearman’s rank correlation test. Results: The most frequently observed level of malocclusion severity was IOTN-DHC Grade 2, identified in 16 participants (35.6%). Displacement was the predominant malocclusion component, occurring in 28 cases (62.2%). The population DMF-T score was 0.69, indicating a very low caries category. Spearman’s correlation analysis demonstrated a statistically significant association between malocclusion severity and caries status (p = 0.001), with a correlation coefficient of r = 0.571, indicating a moderate positive relationship. Conclusion: The findings demonstrated a significant association between malocclusion severity and caries status among Banjar ethnic children aged 11–12 years at SDN Sungai Andai 4. Children with more severe malocclusion tended to exhibit higher caries status.Keywords: Banjar ethnic group, caries status, DMF-T, IOTN-DHC, malocclusion ABSTRAKLatar Belakang: Karies dan maloklusi masih menjadi permasalahan kesehatan gigi yang sering dijumpai pada anak usia sekolah. Susunan gigi yang tidak teratur dapat menyulitkan pembersihan rongga mulut sehingga meningkatkan retensi plak dan berpotensi meningkatkan risiko karies. Informasi mengenai hubungan kedua kondisi tersebut pada anak Suku Banjar masih terbatas. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan status karies pada siswa Suku Banjar usia 11–12 tahun di SDN Sungai Andai 4 Kota Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 45 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat keparahan maloklusi diukur menggunakan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) komponen Dental Health Component (DHC), sedangkan status karies dinilai menggunakan indeks DMF-T. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Tingkat keparahan maloklusi yang paling banyak ditemukan adalah IOTN-DHC tingkatan 2 sebanyak 16 responden (35,6%). Komponen maloklusi yang paling dominan adalah Displacement sebanyak 28 kasus (62,2%). Nilai DMF-T populasi sebesar 0,69 yang termasuk kategori sangat rendah. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan maloklusi dan status karies (p = 0,001) dengan koefisien korelasi r = 0,571 yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat keparahan maloklusi dan status karies pada anak Suku Banjar usia 11–12 tahun di SDN Sungai Andai 4. Individu yang memiliki maloklusi lebih berat cenderung menunjukkan status karies yang lebih tinggi. Kata Kunci: DMF-T, IOTN-DHC, maloklusi, status karies, Suku Banjar.