Di Indonesia, termasuk Kota Medan, kasus gangguan kesehatan jiwa menunjukkan tren peningkatan, baik dalam bentuk gangguan ringan seperti stres dan kecemasan, maupun gangguan berat yang membutuhkan penanganan intensif. Pada triwulan III (September) 2025, jumlah orang dengan gangguan jiwa di Kota Medan mencapai 2.681 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa adanya urgensi mendesak untuk memperkuat kapasitas tenaga Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang terkait lama kerja, tingkat pendidikan dan pelatihan yang mempengaruhi keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi penelitian sebanyk 41 orang dan jumlah sampel penelitian 41 orang (total sampling). Instrumen dalam penelitian menggunakan kuesioner dengan uji statistik menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara faktor lama kerja dengan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas terdapat pengaruh signifikan dengan nilai p-value 0,001(< 0,05). Antara faktor tingkat pendidikan dengan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas terdapat pengaruh signifikan dengan nilai p-value 0,014 (< 0,05). Antara faktor pelatihan dengan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas terdapat pengaruh signifikan dengan nilai p-value 0,001 (< 0,05). Dan faktor pelatihan merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas dengan nilai uji multivariatnya p-value 0,012. Dapat disimpulkan bahwa faktor lama kerja, tingkat pendidikan dan pelatihan mempengaruhi secara signifikan terhadap keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas.