Di antara berbagai pilihan alat kontrasepsi, Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) diklaim sebagai opsi ber-KB dengan daya tekan angka kelahiran paling kuat sekaligus penopang keberlanjutan program keluarga berencana. Kenyataannya, pemanfaatan MKJP di tanah air belum optimal dan masih kalah jauh dibandingkan pemakaian kontrasepsi jangka pendek. Kondisi ini menyimpan konsekuensi serius sebab minimnya pemakaian MKJP membuka peluang lebih besar terjadinya kegagalan kontrasepsi, yang ujungnya berisiko menimbulkan kehamilan tak terencana. Riset ini disusun guna menelusuri faktor-faktor yang berkontribusi signifikan terhadap masih rendahnya angka pemakaian MKJP pada wanita usia subur. Desain yang dipakai berupa studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 35 wanita usia subur yang dijaring memakai teknik purposive sampling. Sembilan variabel diteliti, meliputi pengetahuan, jenjang pendidikan, usia, jumlah paritas, kelengkapan sarana-prasarana KB, kemudahan menjangkau fasilitas kesehatan, kondisi sosial ekonomi, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan pasangan. Pengujian hubungan antarvariabel memakai uji Fisher's Exact Test pada ambang kemaknaan p < 0,05, didahului analisis univariat. Temuan memperlihatkan mayoritas responden, yaitu 85,7%, belum menjadikan MKJP sebagai pilihan kontrasepsinya. Dari sembilan variabel yang diuji, hanya dua yang terbukti berhubungan signifikan dengan pemilihan MKJP, yaitu tingkat pengetahuan (p = 0,001) dan dukungan pasangan (p = 0,049), sedangkan tujuh variabel lain — pendidikan, usia, paritas, kelengkapan sarana-prasarana, akses fasilitas kesehatan, status sosial ekonomi, dan dukungan petugas kesehatan — tidak menunjukkan keterkaitan bermakna. Simpulannya, pengetahuan dan dukungan pasangan menjadi penentu utama rendahnya pemakaian MKJP, sehingga penguatan edukasi seputar MKJP serta pelibatan aktif pasangan dalam sesi konseling KB perlu dijadikan agenda prioritas pada layanan kesehatan reproduksi.