Sri Supiyati
Program Studi Pendidikan Dasar, Program Magister, Universitas Hamzanwadi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBEDAAN PENGARUH MODEL PROJECT-BASED LEARNING DAN PROBLEM-BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KOMUNIKASI SISWA SMP Sulfatuh Ummah; Edy Waluyo; Sri Supiyati
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v5i4.15246

Abstract

ABSTRACT Critical thinking and communication are essential 21st-century competencies that need to be developed among junior high school students, yet both remain challenging to develop through classroom learning. This study aimed to analyze differences in the effects of Project-Based Learning (PjBL) and Problem-Based Learning (PBL) on students’ critical thinking and communication skills, both simultaneously and partially. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental non-equivalent control group design. The sample consisted of 60 eighth-grade students at SMP Negeri 1 Pringgasela, divided into PjBL and PBL groups, with 30 students in each group. Data were collected using an essay test to assess critical thinking and a performance test to assess communication skills, both of which underwent validity and reliability testing. Data were analyzed using Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) at a significance level of 0.05. The results showed a significant simultaneous difference between PjBL and PBL in students’ critical thinking and communication skills (Pillai’s Trace = 0.878; F = 205.702; p < 0.05). Partially, PBL was more effective in developing critical thinking, whereas PjBL was more effective in developing communication skills. These findings indicate that learning model selection should be aligned with the competencies targeted in instruction. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis dan komunikasi merupakan kompetensi abad ke-21 yang penting dikembangkan pada siswa SMP, tetapi keduanya masih menghadapi kendala dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan pengaruh model Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi siswa secara simultan maupun parsial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental non-equivalent control group. Sampel terdiri atas 60 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pringgasela yang terbagi dalam kelompok PjBL dan PBL, masing-masing 30 siswa. Data dikumpulkan melalui tes uraian kemampuan berpikir kritis dan tes unjuk kerja kemampuan komunikasi yang telah melalui validasi dan uji reliabilitas. Data dianalisis menggunakan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh signifikan secara simultan antara PjBL dan PBL terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi siswa (Pillai’s Trace = 0,878; F = 205,702; p < 0,05). Secara parsial, PBL lebih unggul dalam kemampuan berpikir kritis, sedangkan PjBL lebih unggul dalam kemampuan komunikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan model pembelajaran perlu disesuaikan dengan kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KREATIVITAS DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPAS DI SEKOLAH DASAR Rohmiyati Jalilah; Muhammad Khairul Wazni; Sri Supiyati
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v5i4.15250

Abstract

ABSTRACT Elementary IPAS learning is expected not only to promote conceptual understanding but also to develop students’ creativity and critical thinking through active and contextual learning experiences. This study aimed to compare students’ creativity and critical thinking after participating in Project-Based Learning (PjBL) and Problem-Based Learning (PBL), as well as to examine differences between the two outcomes simultaneously. The study employed a quasi-experimental approach with a static-group comparison design involving fifth-grade students at SD Negeri 1 Terara during the second semester of the 2025/2026 academic year. From a population of 70 students, the final data analyzed comprised 65 students, with 35 students in the PjBL group and 30 students in the PBL group. Creativity was measured using a Likert-scale questionnaire, while critical thinking was assessed using an instrument based on critical-thinking indicators. Data were analyzed using descriptive statistics, normality and homogeneity tests, independent-samples t-tests, and MANOVA with SPSS 26. The results showed that the mean creativity score was higher in the PjBL group than in the PBL group (81.69 vs. 79.17), but the difference was not significant (p = 0.084). Conversely, the mean critical-thinking score was slightly higher in the PBL group than in the PjBL group (79.40 vs. 78.91), but the difference was also not significant (p = 0.769). Simultaneously, MANOVA indicated no significant multivariate difference (Pillai’s Trace = 0.050; F(2,62) = 1.636; p = 0.203). These findings indicate that both models produced relatively comparable outcomes in creativity and critical thinking within the research context. ABSTRAK Pembelajaran IPAS di sekolah dasar dituntut tidak hanya menghasilkan penguasaan konsep, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis melalui pengalaman belajar yang aktif dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan membandingkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa setelah mengikuti pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning (PBL), serta menguji perbedaan kedua outcome secara simultan. Penelitian menggunakan eksperimen semu dengan rancangan static-group comparison pada siswa kelas V SD Negeri 1 Terara semester genap Tahun Pelajaran 2025/2026. Dari populasi 70 siswa, data akhir yang dianalisis berjumlah 65 siswa, terdiri atas 35 siswa kelompok PjBL dan 30 siswa kelompok PBL. Kreativitas diukur menggunakan angket skala Likert, sedangkan kemampuan berpikir kritis diukur menggunakan instrumen penilaian berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, homogenitas, independent-samples t-test, dan MANOVA dengan SPSS 26. Hasil menunjukkan bahwa rerata kreativitas kelompok PjBL lebih tinggi daripada PBL (81,69 vs. 79,17), tetapi tidak signifikan (p=0,084). Sebaliknya, rerata berpikir kritis PBL sedikit lebih tinggi daripada PjBL (79,40 vs. 78,91), tetapi juga tidak signifikan (p=0,769). Secara simultan, MANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan multivariat yang signifikan (Pillai’s Trace=0,050; F(2,62)=1,636; p=0,203). Temuan menunjukkan bahwa kedua model menghasilkan capaian yang relatif sebanding pada kreativitas dan berpikir kritis dalam konteks penelitian.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN INKUIRI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS MELALUI KEMANDIRIAN BELAJAR Ahlan Suadi; Lalu Muhammad Fauzi; Sri Supiyati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14985

Abstract

ABSTRACT Students’ mathematical critical thinking skills in Indonesia remain relatively low. This study aimed to analyze the influence of Problem-Based Learning (PBL) and Inquiry learning models on students’ mathematical critical thinking skills, with learning independence examined as a mediating variable. A quantitative approach with a quasi-experimental design was employed, and the data were analyzed using path analysis. The sample consisted of 46 fifth-grade students at SD Negeri 1 Sambelia, divided into two groups: PBL (n = 23) and Inquiry (n = 23). The research instruments comprised a mathematical critical thinking skills test and a learning independence questionnaire. The results showed that the learning models and learning independence jointly contributed significantly to students’ mathematical critical thinking skills. PBL showed a significant individual contribution, while the contribution of Inquiry was associated with students’ learning independence. Learning independence also made a significant contribution to mathematical critical thinking skills in the PBL group. These findings indicate that the effectiveness of PBL and Inquiry in supporting mathematical critical thinking is associated with students’ level of learning independence. Therefore, learning activities should incorporate systematic support for the development of students’ learning independence alongside the implementation of innovative learning models. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis matematis merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran matematika karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menyelesaikan masalah secara logis. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dan pengaruh penerapan model Problem Based Learning (PBL) dan Inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis matematis dengan mempertimbangkan kemandirian belajar siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental. Sampel terdiri atas 46 siswa kelas V SD Negeri 1 Sambelia yang terbagi dalam kelompok PBL (n=23) dan kelompok Inkuiri (n=23). Data dikumpulkan menggunakan tes kemampuan berpikir kritis matematis dan angket kemandirian belajar, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji prasyarat, dan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran dan kemandirian belajar secara bersama-sama berhubungan secara signifikan dengan kemampuan berpikir kritis matematis. Penerapan PBL menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, sedangkan pengaruh model Inkuiri perlu dipahami dengan mempertimbangkan kemandirian belajar siswa. Kemandirian belajar juga menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, terutama pada kelompok PBL. Namun, perbedaan pengaruh langsung antara PBL dan Inkuiri tidak menunjukkan hasil yang signifikan setelah kemandirian belajar diperhitungkan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan PBL dan Inkuiri sama-sama berpotensi mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis matematis, sementara kemandirian belajar merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kedua model pembelajaran tersebut.