Terapi hemodialisis dengan kateter double lumen sebagai akses vaskular utama, dapat meningkatkan risiko bakteremia terkait kateter, yang berdampak pada morbiditas, mortalitas, dan beban ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan kolonisasi kateter double lumen hemodialisis dan kejadian bakteremia pada pasien hemodialisis, serta karakteristik pasien di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan sejak April hingga Oktober 2024 di Unit Hemodialisis dan Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Semua pasien dewasa yang menjalani hemodialisis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian ini. Pasien dilakukan pemeriksaan kultur catheter tip dan kultur darah serta pencatatan data karakteristik pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan 52,4% pasien mengalami bakteremia terkait kolonisasi kateter double lumen, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kolonisasi kateter double lumen dan kejadian bakteremia (p = 0,900). Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan dari kultur catheter tip double lumen (40,9%) dan kultur darah (63,6%). Karakteristik pasien yang mengalami bakteremia terkait penggunaan kateter double lumen didominasi oleh pasien perempuan (63,7%), usia 36-45 tahun (36,3%), tingkat pendidikan SMA (72,7%), non-lupus nefritis (90,9%), non-diabetes mellitus (63,7%), tidak ada riwayat penggunaan steroid (90,9%), lokasi vena jugularis (90,9%), lama penggunaan kateter double lumen lebih dari 3 bulan (63,6%), dan frekuensi hemodialisis dua kali seminggu (90,9%). Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara kolonisasi kateter double lumen dengan kejadian bakteremia. Penelitian dengan skala lebih besar disarankan untuk dilakukan di masa yang akan datang.