Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dapat menunjukkan perilaku tantrum yang berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi, komunikasi, perubahan rutinitas, stimulasi sensorik, maupun frustrasi ketika kebutuhan tidak terpenuhi. Di sekolah inklusi, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengajar karena dapat memengaruhi proses pembelajaran, interaksi sosial, kenyamanan lingkungan belajar, serta kualitas pendampingan terhadap peserta didik. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi pengajar Sekolah Holistik Inklusi Kota Pekalongan dalam mengenali faktor pencetus, mencegah, dan menangani tantrum pada anak ASD melalui pelatihan dan pendampingan berbasis praktik. Program dilaksanakan pada Juli–Agustus 2026 dan diikuti oleh 34 pengajar melalui tahapan koordinasi, identifikasi kebutuhan, penyampaian materi, studi kasus, demonstrasi, simulasi atau role play, praktik kelompok, serta evaluasi menggunakan Model Kirkpatrick Level 1 (Reaction) dan Level 2 (Learning). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa respons peserta terhadap pelaksanaan pelatihan berada pada kategori setuju sebesar 12,5% dan sangat setuju sebesar 87,5%. Pada aspek pembelajaran, 100% peserta memahami konsep penanganan tantrum, 97% menyatakan mampu menerapkan materi, dan 92% memiliki kepercayaan diri untuk mengaplikasikan keterampilan yang diperoleh. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik dapat mendukung peningkatan kapasitas awal pengajar dalam menangani tantrum pada anak ASD. Keberlanjutan program perlu diarahkan pada pendampingan implementasi, supervisi, pemberian umpan balik, dan evaluasi lanjutan pada level perilaku serta hasil agar penerapan strategi dapat dipantau secara lebih sistematis, konsisten, dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. Pendekatan ini diharapkan memperkuat kesiapan sekolah dalam menyediakan layanan pendidikan inklusif yang responsif.