Penelitian ini bertujuan mengkaji dualitas makna dan fungsi musikal Sunding Wuni, instrumen suling ganda yang hidup dalam tradisi masyarakat etnis Riung di Kabupaten Ngada. Keunikan instrumen ini terletak pada penggunaannya dalam dua konteks ritual dengan suasana emosional yang berbeda, yaitu kedukaan dan perayaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, pemangku ritual, dan musisi tradisional, observasi partisipatif, dokumentasi audio, serta studi pustaka. Data dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, penafsiran kontekstual terhadap karakter musikal, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Sunding Wuni mengalami perubahan karakter musikal sesuai dengan konteks ritual. Pada suasana kedukaan, instrumen ini dimainkan dengan tempo yang lebih lambat, tekanan tiupan yang relatif tertahan, dan ornamentasi yang lebih terbatas, sedangkan pada konteks perayaan pola permainan cenderung lebih dinamis dan disertai ornamentasi yang lebih beragam. Perbedaan tersebut dimaknai masyarakat sebagai bentuk ekspresi duka dan penghormatan pada konteks kematian, serta sebagai ekspresi syukur dan kebersamaan pada konteks perayaan. Temuan menunjukkan bahwa makna Sunding Wuni tidak hanya ditentukan oleh bentuk instrumennya, tetapi juga oleh cara permainan, situasi ritual, dan pemaknaan sosial masyarakat pendukungnya. Dalam kedua konteks tersebut, Sunding Wuni berperan sebagai medium ekspresi musikal sekaligus bagian dari praktik kebersamaan komunal masyarakat Riung.