Lely Arrianie
Institut Komunikasi dan Bisnis, LSPR, Jakarta, Indonesia.

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Komentar Gulma Sebagai Gangguan Pada Informasi Resmi Pemerintah Di Instagram @Jokowi Husen Mony; Lely Arrianie; Andre Ikhsano
Jurnal Komunikasi dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Komunikasi dan Ilmu Sosial (Juli - September 2026)
Publisher : Dinasti Research & Yayasan Dharma Indonesia Tercinta (DINASTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jkis.v4i3.3673

Abstract

Pada akun Instagram @jokowi marak muncul praktik produksi komentar yang mengganggu. Padahal akun @jokowi merupakan media resmi pemerintah yang pemanfaatannya untuk informasi berkaitan dengan program atau aktivitas resmi kepala negara dan kepala pemerintahan Republik Indonesia, Joko Widodo. Banyak akun yang mengabaikan tujuan dari keberadaan akun @jokowi tersebut sehingga memproduksi komentar gangguan, yang disebut “Komentar Gulma”. Komentar Gulma adalah istilah terkait umpan balik pada unggahan sebuah akun media sosial, yang isinya tidak punya kaitan sama sekali, jauh dari konteks bahasan unggahan. Istilah gulma sendiri merujuk pada rumput liar yang kerap menjadi pengganggu tanaman budidaya petani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi kualitatif (qualitative content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk komentar gulma yang teridentifikasi berupa: komentar promosi, kritik pihak lain, seks-asmara, makian, dan permintaan personal. Komentar gulma muncul karena ruang komentar tidak diatur dengan baik. Tidak adanya interaksi antara pengelola dengan pengguna yang meninggalkan komentar pada unggahan akun @jokowi. Akun-akun yang teridentifikasi memproduksi komentar gulma beragam; ada yang akun promosi, pengikut, akun palsu, pendengung, dan lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran teknologi pada dasarnya membawa perubahan pada perilaku komunikasi manusia. Temuan pentingnya adalah bahwa perubahan perilaku yang dimunculkan tidak seragam, meski terjadi dalam satu ekologi yang sama. Implikasinya, model komunikasi PR pemerintah perlu menyesuaikan diri dengan perbedaan yang ada.