Harga diri rendah kronis merupakan salah satu masalah keperawatan jiwa yang mendominasi pada pasien skizofrenia karena berpotensi besar menghambat proses pemulihan klinis serta mengganggu fungsi interaksi sosialnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Bergas pada tahun 2026, tercatat sebanyak 68 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang aktif mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa secara komprehensif pada pasien skizofrenia yang mengalami harga diri rendah kronis melalui pendekatan manajemen perilaku yang dipadukan dengan aktivitas fisik bertahap sesuai kapasitas pasien. Menggunakan desain deskriptif berbasis studi kasus, penelitian ini berfokus pada Tn. R (24 tahun) yang mengalami penurunan konsep diri akibat trauma perundungan (bullying) pada masa sekolah. Data dihimpun selama tiga hari kunjungan (15–17 Juni 2026) melalui teknik wawancara mendalam, observasi klinis, dan analisis dokumen rekam medis. Pada evaluasi awal, pasien menunjukkan respons maladaptif seperti enggan menatap lawan bicara, berbicara dengan nada amat pelan, postur tubuh cenderung membungkuk, dan memilih menarik diri. Kendati demikian, ditemukan potensi positif berupa ketaatan beribadah serta minat mendalam dalam seni lukis. Perawat menerapkan intervensi manajemen perilaku melalui pemberian penguatan positif (positive reinforcement) yang diintegrasikan dengan terapi melukis secara bertahap—mulai dari pembuatan draf sketsa, pewarnaan media, hingga menggambar kolaboratif dan memamerkan hasilnya kepada keluarga (SP 1 hingga SP 3). Pasca-implementasi, pasien menunjukkan perkembangan respons adaptif yang signifikan, meliputi peningkatan durasi kontak mata, intonasi suara yang lebih jelas, serta dimulainya inisiatif berinteraksi dengan orang tua, meskipun masalah keperawatan dinilai teratasi sebagian. Dapat disimpulkan bahwa penerapan manajemen perilaku melalui aktivitas fisik yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan pasien terbukti efektif mereduksi gejala harga diri rendah serta layak direkomendasikan sebagai pilihan intervensi keperawatan jiwa berbasis komunitas.