Sofiani Lathifah
Faculty of Pharmacy, Universitas Ahmad Dahlan,

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pola Adverse Drug Reactions (ADR) dan Underreporting dalam Implementasi Farmakovigilans di Rumah Sakit Indonesia: Narrative Review Sofiani Lathifah; Astiara Lahay; Endang Darmawan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 23 No. 01 Juli 2026
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Farmakovigilans merupakan komponen penting dalam menjamin keamanan penggunaan obat di rumah sakit. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi farmakovigilans di rumah sakit di Indonesia melalui analisis kejadian Adverse Drug Reactions (ADR), pola pelaporan, serta keterlibatan tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan narrative review terhadap artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir dan diperoleh dari database Crossref, PubMed, dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan bahwa kejadian ADR di rumah sakit di Indonesia umumnya berkaitan dengan penggunaan obat untuk penyakit kronis, dengan kelompok obat utama meliputi antihipertensi, antibiotik, antidiabetik, antipsikotik, dan obat kemoterapi. ADR paling sering terjadi pada perempuan dan kelompok usia dewasa hingga lansia, dengan manifestasi dominan berupa gangguan gastrointestinal, neurologis, dan kelelahan. Analisis kausalitas pada studi primer menunjukkan bahwa mayoritas ADR berada pada kategori possible hingga probable berdasarkan algoritma Naranjo. Dari sisi sistem, pelaporan ADR masih belum optimal, ditandai dengan rendahnya pelaporan formal ke sistem nasional, keterbatasan pengetahuan tenaga kesehatan, serta belum terintegrasinya sistem pelaporan. Kesimpulannya, implementasi farmakovigilans di rumah sakit Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, terutama pada aspek pelaporan dan kapasitas tenaga kesehatan, sehingga diperlukan penguatan sistem, pelatihan berkelanjutan, serta integrasi pelaporan berbasis elektronik.