Jefri Setyawan
University of Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reconstructing Positive Self-Image among Juvenile Inmates through Positive Interactive Counselling: A Strength-Based Approach to Psychosocial Rehabilitation Merinta Wira Ababiel; Jefri Setyawan; Mary Philia Elisabeth
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202513144

Abstract

This exploratory study examines how a brief Positive Interactive Counselling (PIC) session can foster positive self-image among justice-involved adolescents in an Indonesian juvenile correctional facility. Beyond a community outreach activity, the work is framed as qualitative descriptive research with a clear theoretical contribution to Positive Psychology and Psychosocial Rehabilitation. Three participants (ages 16–17), purposively sampled, completed a single 60-minute group session combining guided reflection and peer sharing. Data (fieldnotes, participant worksheets, and in-session reflections) were analyzed using reflexive thematic analysis. Three themes emerged: (1) a growing desire to make a positive impact coupled with personal responsibility; (2) recognition of self-potential linked to skills and long-term goals; and (3) spiritual strength as a stabilizing foundation in adversity. Empirically, the session elicited counter-stereotypic self-descriptions and visible peer affirmation; observed changes included increased self-confidence, self-awareness, and perceived readiness for social reintegration. Conceptually, findings illuminate how PIC may support self-reconstruction by aligning with autonomy, competence, and relatedness needs while normalizing hope and meaning-making in a culturally resonant setting. Practically, the study demonstrates a low-resource, replicable protocol suitable for constrained custodial contexts and points to directions for longitudinal and multi-site evaluation.   Abstrak: Studi eksploratif ini menelaah bagaimana satu sesi singkat Positive Interactive Counselling (PIC) dapat membangun citra diri positif pada remaja binaan di sebuah lembaga pemasyarakatan anak di Indonesia. Melampaui kegiatan pengabdian masyarakat, penelitian ini diposisikan sebagai studi kualitatif deskriptif dengan kontribusi teoretis yang jelas terhadap Psikologi Positif dan Rehabilitasi Psikososial. Tiga partisipan (usia 16–17 tahun) yang dipilih secara purposif mengikuti satu sesi kelompok berdurasi 60 menit yang memadukan refleksi terarah dan peer sharing. Data (catatan lapangan, lembar kerja partisipan, dan refleksi selama sesi) dianalisis menggunakan reflexive thematic analysis. Tiga tema utama muncul: (1) meningkatnya keinginan memberi dampak positif yang disertai tanggung jawab pribadi; (2) pengenalan potensi diri yang terhubung dengan keterampilan dan tujuan jangka panjang; dan (3) kekuatan spiritual sebagai landasan stabil dalam menghadapi kesulitan. Secara empiris, sesi ini memunculkan deskripsi diri yang berlawanan dengan stigma serta afirmasi sejawat yang tampak; perubahan yang diamati meliputi peningkatan kepercayaan diri, kesadaran diri, dan kesiapan untuk reintegrasi sosial. Secara konseptual, temuan menunjukkan bahwa PIC dapat mendukung rekonstruksi diri dengan menyelaraskan kebutuhan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan, sekaligus menormalisasi harapan dan pemaknaan dalam konteks budaya yang relevan. Secara praktis, studi ini mendemonstrasikan protokol berbiaya rendah yang dapat direplikasi di lingkungan pemasyarakatan yang terbatas, serta membuka arah evaluasi longitudinal dan multi-situs.
Parental Bereavement and Academic Resilience in Indonesian Adolescents: Emotion Regulation as Mediator and Social Support as Protective Factor Lynda Yenie Listaunsanti; Jefri Setyawan
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202513244

Abstract

Parental bereavement represents one of the most profound emotional disruptions in adolescence, yet its academic implications remain underexplored, particularly in relation to how emotional regulation interacts with social support to sustain academic performance. This qualitative phenomenological study investigated the adaptive processes of two 18-year-old students in Surabaya who experienced parental loss, aiming to understand how they navigated grief while remaining engaged in learning. Data were collected through in-depth interviews and classroom observation, then analyzed using thematic analysis. Four themes emerged: academic resilience, emotion regulation, social support, and negative emotional experiences. Findings reveal that despite emotional disruptions and social stigma, both students demonstrated perseverance, reflective help-seeking, and meaning-making abilities, supported by cognitive reappraisal and culturally grounded coping (e.g., sabar, ikhlas, prayer). Emotion regulation served as a mediating mechanism linking bereavement to academic resilience, while peer and family support acted as protective buffers fostering motivation and emotional stability. Practically, this study underscores the need for grief-sensitive pedagogy and teacher training in emotional scaffolding to support bereaved students’ adjustment. Theoretically, the study extends Academic Resilience Theory (Cassidy, 2016) by positioning emotion regulation as a mediating mechanism and social support as a key protective factor in the context of parental loss.   Abstrak: Kehilangan orang tua merupakan salah satu pengalaman emosional paling mendalam pada masa remaja, namun dampaknya terhadap capaian akademik masih belum banyak diteliti. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis ini mengeksplorasi proses adaptasi dua siswa berusia 18 tahun di Surabaya yang mengalami kehilangan orang tua, dengan tujuan memahami bagaimana mereka mengelola duka sembari tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi kelas, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Empat tema utama ditemukan: resiliensi akademik, regulasi emosi, dukungan sosial, dan pengalaman emosional negatif. Hasil menunjukkan bahwa meskipun mengalami gangguan emosi dan stigma sosial, kedua peserta mampu menunjukkan ketekunan, perilaku pencarian bantuan yang reflektif, dan kemampuan memaknai pengalaman, yang didukung oleh reappraisal kognitif dan strategi koping berbasis budaya (misalnya sabar, ikhlas, dan doa). Regulasi emosi berperan sebagai mekanisme mediasi yang menghubungkan pengalaman kehilangan dengan resiliensi akademik, sementara dukungan dari teman sebaya dan keluarga berfungsi sebagai faktor protektif yang memperkuat motivasi dan stabilitas emosional. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya penerapan pedagogi sensitif-duka dan pelatihan guru terkait emotional scaffolding dalam mendukung proses adaptasi siswa yang berduka. Penelitian ini memperluas penerapan Academic Resilience Theory (Cassidy, 2016) dengan menempatkan regulasi emosi sebagai mekanisme mediasi dan dukungan sosial sebagai faktor protektif dalam konteks kehilangan orang tua.