Secara global Limfoma Non-Hodgkin (LNH) merupakan salah satu keganasan hematologi dengan angka kejadian tertinggi dan menempati urutan ke-13 di dunia. Prevalensi di Asia selama lima tahun terakhir mencapai 710.721 kasus (40,9%) dengan 235.442 kasus baru (42,5%). Regimen Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vinkristine, dan Prednisone (CHOP) merupakan kemoterapi konvensional, sedangkan RCHOP (Rituximab Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vinkristine, dan Prednisone) merupakan imunokemoterapi dengan penambahan rituximab sebagai antibodi monoklonal anti-CD20 yang telah terbukti meningkatkan luaran klinis namun juga meningkatkan biaya terapi, sehingga diperlukan evaluasi farmakoekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya terapi medis langsung, kualitas hidup, dan utilitas biaya regimen CHOP dan RCHOP pada pasien LNH di RSUP Dr. Sardjito. Penelitian observasional kohort prospektif ini dilakukan dari perspektif rumah sakit dengan periode pengamatan selama satu siklus kemoterapi. Biaya medis langsung diperoleh dari rekam medis dan sistem pembiayaan rumah sakit. Kualitas hidup diukur menggunakan EQ-5D-5L dan dikonversi menjadi nilai utilitas menggunakan Indonesian EQ-5D-5L Value Set, kemudian dihitung Quality-Adjusted Life Years (QALYs) dan Incremental Cost-Utility Ratio (ICUR). Efektivitas biaya dinilai berdasarkan ambang batas cost-effectiveness sebesar satu kali Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia, tanpa dilakukan analisis sensitivitas. Sebanyak 60 pasien dianalisis, masing-masing 30 pasien pada kelompok CHOP dan RCHOP. Kelompok RCHOP memiliki kualitas hidup yang lebih baik (p<0,05), dengan nilai utilitas 0,97 dibandingkan 0,71 pada CHOP. Rata-rata biaya medis langsung terapi CHOP sebesar Rp 1.794.838 dan RCHOP sebesar Rp 7.930.518. Nilai ICUR sebesar Rp 316.762/QALY menunjukkan bahwa penambahan rituximab pada regimen CHOP memiliki cost-utility yang baik meskipun meningkatkan biaya terapi.