This Author published in this journals
All Journal Pharmacoscript
Fatin Mia Nisrina Anbar
Program Studi Magister Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Bhakti Kencana, Bandung, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : pharmacoscript

PENGGUNAAN MEROPENEM PADA PASIEN RAWAT INAP: RASIONALITAS BERDASARKAN METODE GYSSENS DAN BIAYA MEDIS LANGSUNG Saputra Erwin Yuliana; Sukmawati Ika Kurnia; Fatin Mia Nisrina Anbar
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2886

Abstract

Penggunaan meropenem sebagai antibiotik golongan karbapenem perlu dilakukan secara rasional untuk menekan resistensi antimikroba dan mengoptimalkan penggunaan antibiotik di rumah sakit. Namun, bukti mengenai ketepatan penggunaan meropenem serta hubungannya dengan biaya medis langsung pada pasien yang menjalani perawatan inap masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi rasionalitas penggunaan meropenem menggunakan metode Gyssens serta menganalisis hubungannya dengan biaya medis langsung. Penelitian observasional analitik dengan desain retrospektif melibatkan 297 pasien dewasa dengan berbagai diagnosis klinis yang mendapatkan terapi meropenem selama menjalani perawatan di rumah sakit. Rasionalitas penggunaan antibiotik dievaluasi menggunakan metode Gyssens, sedangkan biaya medis langsung dihitung dari perspektif rumah sakit. Perbedaan biaya antara kelompok rasional dan tidak rasional dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney, sedangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan total biaya medis langsung dianalisis menggunakan regresi linear multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 226 pasien (76,1%) menerima terapi meropenem secara rasional, sedangkan 71 pasien (23,9%) tergolong tidak rasional, terutama akibat ketidaktepatan pemilihan antibiotik, durasi terapi yang melebihi rekomendasi, dan ketidaktepatan dosis. Pada analisis bivariat, kelompok rasional memiliki median biaya antibiotik yang lebih rendah (Rp378.000 [IQR:331.154] vs Rp590.292 [IQR:615.390]), tetapi median total biaya medis langsung lebih tinggi (Rp12.719.782 [IQR:20.364.548] vs Rp8.608.013 [IQR:13.705.190]). Namun, setelah penyesuaian terhadap faktor perancu, rasionalitas penggunaan meropenem tidak berhubungan secara independen dengan total biaya medis langsung (p=0,446). Penggunaan meropenem yang rasional berkaitan dengan biaya antibiotik yang lebih rendah, tetapi tidak berhubungan secara independen dengan total biaya medis langsung, yang lebih dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit, kebutuhan tindakan medis, dan kompleksitas pelayanan.