Asnita Frida B. R. Sebayang
Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Sektor Unggulan Daerah dan Implikasinya terhadap Potensi Pengembangan Ekonomi Biru di Kabupaten Belitung Fida Syahidah; Asnita Frida B. R. Sebayang
Bandung Conference Series: Economics Studies 249 - 258
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24458

Abstract

Abstract. Belitung Regency has significant maritime potential, providing opportunities to develop the blue economy through the optimization of its leading economic sectors. This study aims to identify basic sectors, analyze leading sectors, and examine the implications of regional leading sector transformation for the potential development of the blue economy in Belitung Regency. The study employed a mixed methods approach by combining quantitative analysis using Location Quotient (LQ), Esteban–Marquillas Shift Share, and Klassen Typology based on Gross Regional Domestic Product (GRDP) data of Belitung Regency and the Bangka Belitung Islands Province for 2020 and 2025. These analyses were complemented by a Systematic Literature Review (SLR) to strengthen the interpretation of the findings within the blue economy framework. The results indicate that 11 basic sectors remained consistent throughout the study period. The Shift Share analysis identified the Agriculture, Forestry, and Fisheries sector as the only sector with both competitive advantage and specialization. The Klassen Typology analysis revealed a transformation in the regional economic structure, characterized by an increasing number of advanced and rapidly growing sectors. The SLR findings further confirm that the Agriculture, Forestry, and Fisheries; Transportation and Warehousing; and Accommodation and Food Service Activities sectors have strong potential to support blue economy development, while the Manufacturing sector requires further strengthening through downstream processing to increase marine-based value added Abstrak. Kabupaten Belitung memiliki potensi maritim yang besar sehingga berpeluang mengembangkan ekonomi biru melalui optimalisasi sektor-sektor unggulan daerah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sektor basis, menganalisis sektor unggulan, serta mengkaji implikasi transformasi sektor unggulan terhadap potensi pengembangan ekonomi biru di Kabupaten Belitung. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan analisis kuantitatif melalui Location Quotient (LQ), Shift Share modifikasi Esteban–Marquillas, dan Tipologi Klassen berdasarkan data PDRB Kabupaten Belitung dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2020 dan 2025. Analisis tersebut dipadukan dengan Systematic Literature Review (SLR) untuk memperkuat interpretasi hasil terhadap konsep ekonomi biru. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 sektor basis yang konsisten selama periode penelitian. Analisis Shift Share menunjukkan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor yang memiliki keunggulan kompetitif dan terspesialisasi. Tipologi Klassen mengindikasikan adanya transformasi struktur ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah sektor maju dan tumbuh cepat. Hasil SLR memperkuat bahwa sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Transportasi dan Pergudangan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum berpotensi mendukung pengembangan ekonomi biru, sedangkan sektor Industri Pengolahan masih memerlukan penguatan melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi berbasis kelautan.
Pengukuran Kinerja Pembangunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023: Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) Sania Fadila; Asnita Frida B. R. Sebayang
Bandung Conference Series: Economics Studies 537 - 546
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v6i2.26059

Abstract

Abstract. This study examines the development performance of 27 regencies and cities in West Java Province during 2018–2023 using the Data Envelopment Analysis (DEA) approach. The analysis employs panel data consisting of three input variables—Locally Generated Revenue (PAD), Fiscal Balance Funds, and Capital Expenditure—and two output variables, namely GRDP per capita at constant prices and the Human Development Index (HDI). Development performance is measured using the BCC model (Variable Returns to Scale/VRS) with an output-oriented approach. The results indicate that Technical Efficiency (TE) ranged from 82.4 to 100 percent. The lowest efficiency score was recorded by Cianjur Regency (82.4 percent), while six cities—Bandung, Cirebon, Bekasi, Depok, Cimahi, and Banjar—consistently achieved full efficiency throughout the observation period. Potential Improvement analysis shows that Fiscal Balance Funds are the largest source of inefficiency, with an average improvement potential of 51.02 percent, followed by Capital Expenditure at 37.66 percent. In contrast, PAD is relatively close to its optimal level, requiring only 2.32 percent improvement on average. On the output side, GRDP per capita exhibits the largest performance gap, with an average improvement potential of 98.86 percent, compared with 12.97 percent for HDI. These findings suggest that improving development performance in West Java depends more on the effectiveness of fiscal resource utilization than on fiscal capacity itself.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja pembangunan 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat selama periode 2018–2023 dengan menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA). Analisis dilakukan menggunakan data panel yang mencakup tiga variabel input, yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Belanja Modal, serta dua variabel output, yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita atas dasar harga konstan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pengukuran kinerja pembangunan dilakukan menggunakan model BCC (Variable Returns to Scale/VRS) dengan orientasi output. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Technical Efficiency (TE) berada pada kisaran 82,4 hingga 100 persen. Tingkat efisiensi terendah dicapai oleh Kabupaten Cianjur dengan nilai 82,4 persen, sedangkan enam kota, yaitu Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Cimahi, dan Kota Banjar, secara konsisten mencapai tingkat efisiensi sempurna selama periode pengamatan. Analisis Potential Improvement menunjukkan bahwa Dana Perimbangan merupakan sumber inefisiensi terbesar dengan rata-rata potensi perbaikan sebesar 51,02 persen, diikuti oleh Belanja Modal sebesar 37,66 persen. Sebaliknya, PAD relatif mendekati kondisi optimal dengan rata-rata potensi perbaikan hanya sebesar 2,32 persen. Dari sisi output, PDRB per kapita menunjukkan kesenjangan kinerja terbesar dengan rata-rata potensi perbaikan sebesar 98,86 persen, lebih tinggi dibandingkan IPM yang sebesar 12,97 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja pembangunan di Jawa Barat lebih ditentukan oleh efektivitas pemanfaatan sumber daya fiskal daripada besarnya kapasitas fiskal yang dimiliki daerah.