Hantoro Ksaid Notolegowo
Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi Mitigasi Risiko Aset Obsolescence pada PT PLN (Persero) UPT Bandung Muhammad Dzaki Aliifa; Hantoro Ksaid Notolegowo
Bandung Conference Series: Economics Studies 303 - 310
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24556

Abstract

Abstract. Fixed assets are a key resource supporting the operations of electric power companies. As assets age, the risk of obsolescence may rise, leading to higher maintenance costs, reduced operational efficiency, and threats to a company's financial sustainability. At PT PLN (Persero) UPT Bandung, this is evidenced by a rising net asset value accompanied by increasing maintenance expenses over several periods. This study aims to identify the financial risks arising from asset obsolescence and to formulate mitigation strategies that preserve the company's financial sustainability. A descriptive qualitative method was used, combining secondary data (net asset value, maintenance expenses, and trade payables from financial statements) with primary data obtained through purposive-sampling interviews. Analysis was carried out through risk identification and the formulation of mitigation strategies using SWOT analysis. The results show that rising maintenance expenses alongside aging assets indicate an obsolescence risk. Recommended mitigation strategies include asset renewal, maintenance optimization, integration of asset and financial data management, and the use of technology to improve operational efficiency and safeguard the company's financial sustainability. Abstrak. Aset tetap merupakan sumber daya utama dalam mendukung operasional perusahaan ketenagalistrikan. Seiring bertambahnya umur ekonomis aset, risiko asset obsolescence dapat meningkat dan berdampak pada kenaikan biaya pemeliharaan, penurunan efisiensi operasional, serta keberlanjutan keuangan perusahaan. Pada PT PLN (Persero) UPT Bandung, kondisi tersebut ditunjukkan oleh peningkatan nilai neto aset yang diikuti dengan kenaikan beban pemeliharaan pada beberapa periode. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko keuangan akibat asset obsolescence serta merumuskan strategi mitigasi untuk menjaga keberlanjutan keuangan perusahaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data sekunder berupa laporan keuangan (nilai neto aset, beban pemeliharaan, dan hutang usaha) serta data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan teknik purposive sampling. Analisis dilakukan melalui identifikasi risiko dan penyusunan strategi mitigasi menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan beban pemeliharaan seiring bertambahnya usia aset mengindikasikan risiko obsolescence. Strategi mitigasi yang direkomendasikan meliputi peremajaan aset, optimalisasi pemeliharaan, integrasi pengelolaan data aset dan keuangan, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga keberlanjutan keuangan perusahaan.
Pengaruh Financial Technology dan Budaya Inovasi terhadap Keberlanjutan UMKM di Kota Bandung Mochammad Syafiq Rafil Wizar; Hantoro Ksaid Notolegowo
Bandung Conference Series: Economics Studies 353 - 360
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24977

Abstract

Abstract. Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a significant role in promoting economic growth, creating employment opportunities, and improving community welfare. However, MSME sustainability continues to face challenges, particularly in the adoption of Financial Technology and the development of an innovation culture. This study aims to analyze the influence of Financial Technology and Innovation Culture on MSME Sustainability in Bandung City. A quantitative approach with a survey method was employed. The study involved 230 MSME owners selected through purposive sampling. Data were analyzed using Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS software. The results indicate that Financial Technology has a positive effect on MSME Sustainability, with a path coefficient of 0.189, while Innovation Culture has a stronger positive effect, with a path coefficient of 0.646. These findings suggest that Innovation Culture contributes more substantially to MSME Sustainability than Financial Technology. Therefore, strengthening an innovation culture supported by the optimal utilization of Financial Technology is essential to enhance the competitiveness and long-term sustainability of MSMEs in Bandung City. Abstrak. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Namun, keberlanjutan UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam pemanfaatan Financial Technology dan pengembangan Budaya Inovasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Financial Technology dan Budaya Inovasi terhadap Keberlanjutan UMKM di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 230 pelaku UMKM yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Financial Technology memiliki pengaruh positif terhadap Keberlanjutan UMKM dengan koefisien jalur sebesar 0,189, sedangkan Budaya Inovasi memiliki pengaruh positif dengan koefisien jalur sebesar 0,646. Temuan ini menunjukkan bahwa Budaya Inovasi merupakan faktor yang memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan Financial Technology dalam meningkatkan keberlanjutan UMKM. Oleh karena itu, penguatan budaya inovasi yang didukung oleh pemanfaatan Financial Technology secara optimal menjadi strategi penting untuk meningkatkan keberlanjutan UMKM di Kota Bandung.
Pengaruh Pelatihan dan Kompetensi terhadap Penghasilan melalui Motivasi Kerja sebagai Variabel Mediasi pada Peserta Alumni PT BISA AI Academy Azzam Syaeful Islam; Hantoro Ksaid Notolegowo
Bandung Conference Series: Economics Studies 461 - 470
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v6i2.25769

Abstract

Abstract. This study analyzes the effect of training and competence on the income of PT BISA AI Academy alumni, both directly and through work motivation as a mediating variable. Indonesia's growing digital economy has widened the gap between digital talent supply and industry demand, making training and competence development strategic priorities for improving workforce income. The study employed a quantitative, explanatory approach. The sample consisted of 217 respondents drawn from a population of 1,777 alumni of Education Technology (EdTech)-based training conducted by PT BISA AI Academy during 2024–2025, determined using the rule-of-thumb approach for Partial Least Squares Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Data were collected through an online questionnaire using a four-point Likert scale and analyzed with SEM-PLS. The results show that training has no significant effect on work motivation, while competence has a positive and significant effect on it. Work motivation positively and significantly affects income. Training has a significant but negative direct effect on income, whereas competence has the largest positive and significant direct effect. Work motivation does not mediate the effect of training on income but significantly mediates the effect of competence on income. These findings indicate that digital competence, rather than training participation alone, is the most consistent driver of both work motivation and income growth among alumni. Abstrak. Penelitian ini menganalisis pengaruh pelatihan dan kompetensi terhadap penghasilan alumni PT BISA AI Academy, baik secara langsung maupun melalui motivasi kerja sebagai variabel mediasi. Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia memperlebar kesenjangan antara ketersediaan talenta digital dan kebutuhan industri, sehingga pelatihan dan pengembangan kompetensi menjadi strategi penting dalam meningkatkan penghasilan tenaga kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis eksplanatori. Sampel berjumlah 217 responden dari populasi 1.777 alumni pelatihan berbasis Education Technology (EdTech) periode 2024–2025, ditentukan menggunakan pendekatan rule of thumb dalam Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Square (SEM-PLS). Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan skala Likert 4 poin dan dianalisis menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja, sedangkan kompetensi berpengaruh positif dan signifikan. Motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap penghasilan. Pelatihan berpengaruh signifikan namun dengan arah negatif terhadap penghasilan, sementara kompetensi memiliki pengaruh langsung positif terbesar. Motivasi kerja tidak memediasi pengaruh pelatihan terhadap penghasilan, namun memediasi secara signifikan pengaruh kompetensi terhadap penghasilan. Temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi digital, bukan sekadar keikutsertaan pelatihan, menjadi faktor paling konsisten dalam mendorong motivasi kerja dan peningkatan penghasilan alumni.
Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Bumdes Sebelum dan Pasca Revitalisasi (Studi Kasus Bumdesa Amanah Mandiri Desa Cipanas Periode 2020-2026) Mertavia Ardhany Junaedi; Hantoro Ksaid Notolegowo
Bandung Conference Series: Economics Studies 479 - 486
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v6i2.25819

Abstract

Abstract. This study is motivated by an anomaly at BUMDesa Amanah Mandiri Desa Cipanas, which held pioneer status despite the village achieving Independent Village status, caused by governance failures in legacy business units and a liquidity crisis. This study aims to analyze the level of financial management effectiveness and efficiency before and post-revitalization, compare performance, and identify influencing factors. A mixed-methods approach with a sequential explanatory design was employed. Primary data were gathered through in-depth interviews, while secondary data comprised financial reports and the 2020–2026 business plan. Financial analysis utilized ratio formulas based on Ministerial Decree Kepmendagri No. 690.900-327 of 1996 alongside qualitative interactive model analysis. The results show that the average effectiveness before revitalization (2020–2025) was 75.69% (less effective) with an efficiency rate of 5,695.32% (inefficient). Post-revitalization (2026), effectiveness stood at 68.49% (less effective) due to a steep increase in revenue targets from IDR 25,000,000 to IDR 300,000,000, despite actual nominal revenue surging to IDR 205,460,500. However, the efficiency ratio improved significantly to 74.08% (efficient). The key distinction lies in terminating unprofitable legacy units and shifting to oyster mushroom cultivation supported by food security capital. Influencing factors include budget planning mechanisms, business restructuring, regulatory support, and operational cost control. In conclusion, revitalization successfully restored financial efficiency and expanded BUMDesa's business scale. Implications suggest that BUMDesa managers and village officials must strengthen market analysis, budget discipline, and institutional oversight. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh anomali BUMDesa Amanah Mandiri Desa Cipanas yang berstatus perintis di tengah status Desa Mandiri, akibat kegagalan tata kelola unit usaha lama dan krisis likuiditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan sebelum dan pasca-revitalisasi, membandingkan kinerjanya, serta mengidentifikasi faktor pemengaruh. Metode yang digunakan adalah mixed methods desain sequential explanatory. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, sedangkan data sekunder berupa laporan keuangan dan business plan 2020–2026. Analisis keuangan menggunakan rasio efektivitas dan efisiensi berbasis Kepmendagri No. 690.900-327/1996 serta analisis kualitatif model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata efektivitas sebelum revitalisasi (2020–2025) sebesar 75,69% (kurang efektif) dan efisiensi 5.695,32% (tidak efisien). Pasca-revitalisasi (2026), efektivitas tercatat 68,49% (kurang efektif) akibat lonjakan target pendapatan dari Rp25.000.000 menjadi Rp300.000.000, meskipun realisasi nominal naik tajam menjadi Rp205.460.500. Namun, rasio efisiensi membaik secara signifikan menjadi 74,08% (efisien). Perbedaan utama terletak pada pembekuan unit usaha lama yang merugi dan pengalihan ke budidaya jamur tiram yang didukung modal ketahanan pangan. Faktor pemengaruh meliputi mekanisme perencanaan anggaran, restrukturisasi bisnis, dukungan regulasi, dan pengendalian biaya operasional. Kesimpulannya, revitalisasi berhasil memulihkan efisiensi keuangan dan mempebesar skala bisnis BUMDesa secara nyata. Implikasinya, pengelola BUMDesa dan pemerintah desa perlu memperkuat analisis pasar, disiplin anggaran, serta pengawasan kelembagaan.