Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan antara Stres Kerja dan Dukungan Sosial terhadap Kestabilan Emosi pada Wanita Karir dengan Peran Ganda di Surabaya Ariyani Hartiningsih; Bagus Kastolani; Akta Ririn Aristawat
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13341

Abstract

Meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja menyebabkan banyak wanita menjalankan peran ganda sebagai pekerja sekaligus mengemban tanggung jawab dalam keluarga. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan stres kerja yang dapat memengaruhi kestabilan e mosi. Di sisi lain, dukungan sosial berperan sebagai sumber daya psikologis yang membantu individu menghadapi berbagai tuntutan dan menjaga kestabilan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dan dukungan sosial terhadap kestabilan emosi pada wanita karir dengan peran ganda di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Populasi penelitian adalah wanita karir dengan peran ganda di Surabaya yang memenuhi kriteria penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Stres Kerja, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur dukungan sosial, dan skala Kestabilan Emosi. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan program IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial stres kerja berhubungan signifikan terhadap kestabilan emosi dan dukungan sosial juga berhubungan signifikan terhadap kestabilan emosi. Secara simultan, stres kerja dan dukungan sosial berhubungan signifikan terhadap kestabilan emosi dengan nilai F = 98,498 dan p = 0,000 (p < 0,05). Nilai koefisien determinasi sebesar R² = 0,648 menunjukkan bahwa stres kerja dan dukungan sosial secara bersama-sama mampu menjelaskan 64,8% variasi kestabilan emosi, sedangkan 35,2%sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian.