Zainul Akhyar
Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Preferensi Media dan Strategi Belajar Mahasiswa PPKn pada Pembelajaran Digital Nor Aini; Zainul Akhyar
Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026): May - August 2026
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/jrip.v6i2.5332

Abstract

Transformasi digital di pendidikan tinggi memperluas pilihan media belajar, tetapi kemudahan akses belum selalu diikuti strategi belajar yang terarah dan evaluasi sumber yang memadai. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan preferensi media dan strategi belajar mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta mengidentifikasi faktor yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis di FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Informan terdiri atas delapan mahasiswa PPKn angkatan 2024 dan 2025 serta dua dosen yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian tematik, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan temuan diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik serta konfirmasi interpretasi kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan pergeseran preferensi dari buku cetak dan penjelasan dosen sebagai sumber dominan menuju kombinasi telepon pintar, mesin pencari, jurnal elektronik, video pembelajaran, media sosial edukatif, dan platform daring. Pergeseran tersebut diikuti strategi pencarian mandiri, penggunaan representasi visual, pemilihan sumber sesuai kebutuhan tugas, serta konfirmasi lintas sumber; namun, pendalaman materi dan pengelolaan waktu belum konsisten. Faktor internal meliputi motivasi, literasi digital, kemandirian, dan manajemen waktu, sedangkan faktor eksternal mencakup akses teknologi, lingkungan belajar, dan desain pembelajaran dosen. Temuan mengimplikasikan perlunya pembelajaran PPKn yang memadukan sumber multimodal dengan panduan evaluasi kredibilitas, aktivitas reflektif, dan dukungan regulasi diri agar preferensi media berkembang menjadi strategi belajar yang bertanggung jawab.
Persepsi Perempuan Dewasa Awal terhadap Pernikahan dalam Ekosistem Media Digital di Kota Banjarbaru Muhammad Akmal Saleh; Zainul Akhyar
Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026): May - August 2026
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/jrip.v6i2.5333

Abstract

Ekosistem media digital memperluas sumber pengetahuan tentang pernikahan sekaligus menghadirkan narasi ideal, konflik rumah tangga, dan perbandingan sosial yang dapat memengaruhi cara perempuan muda menafsirkan relasi. Penelitian ini bertujuan memahami persepsi perempuan dewasa awal terhadap makna, kesiapan, dan risiko pernikahan serta cara mereka memaknai konten pernikahan di media digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif di Kota Banjarbaru dengan sebelas informan berusia 19–30 tahun yang mencakup perempuan belum menikah, menikah, dan pernah menikah. Informan dipilih secara purposif dan berpartisipasi secara sukarela. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui pengodean deskriptif, reduksi, penyajian tema, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan tetap dipandang sebagai ikatan bermakna dan komitmen jangka panjang, tetapi bukan kewajiban yang harus segera dipenuhi. Kesiapan mental, emosional, finansial, kesetaraan, komunikasi, dan kesesuaian visi menjadi pertimbangan utama. Media digital dipersepsikan bersifat ganda: menyediakan pengetahuan, contoh relasi, dan kemudahan komunikasi, tetapi juga menampilkan ekspektasi tidak realistis, kisah konflik, peluang perselingkuhan, dan tekanan perbandingan. Informan tidak menerima konten secara seragam; pengalaman pribadi dan kemampuan menilai sumber membentuk proses pemaknaan. Temuan ini menegaskan bahwa media digital merupakan konteks interpretasi, bukan penyebab tunggal perubahan sikap. Implikasinya adalah penguatan literasi digital kritis dan pendidikan pranikah yang responsif gender, berbasis kesiapan, serta tidak menstigma pilihan hidup perempuan.