Pembelajaran tahsin bagi anak tuli menghadapi tantangan komunikasi dan artikulasi karena pendekatan konvensional cenderung bertumpu pada kemampuan auditori. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran konselor dalam mengoptimalkan pembelajaran tahsin adaptif bagi anak tuli menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) di The Little Hijabi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif yang melibatkan enam anak tuli berusia 7-10 tahun pada tahsin level 1 sebagai subjek observasi, serta pengajar tahsin dan kepala yayasan sebagai informan yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan pengujian keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konselor berperan sebagai mitra kolaboratif pengajar melalui dukungan pengondisian kelas, penguatan motivasi, dan observasi kebutuhan penyesuaian pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan secara adaptif melalui tahap pembukaan, inti, dan penutup dengan BISINDO sebagai media komunikasi utama serta penyesuaian metode, media, dan target berdasarkan kemampuan individual peserta didik. Keberhasilan pembelajaran didukung oleh keterlibatan orang tua, media visual, lingkungan inklusif, kompetensi pengajar, dan dukungan kepala yayasan, tetapi terkendala keragaman kemampuan peserta didik, disabilitas ganda, keterbatasan waktu, dan jumlah pengajar. Penelitian menyimpulkan bahwa sinergi konselor dan ekosistem pendidikan menjadi kunci optimalisasi tahsin adaptif berbasis BISINDO. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas perspektif bimbingan dan konseling melalui penyusunan model kolaboratif antara konselor dan pengajar dalam pembelajaran tahsin adaptif berbasis BISINDO bagi anak tuli. Penelitian selanjutnya direkomendasikan menguji efektivitas kolaborasi konselor–pengajar dan kontribusi BISINDO terhadap perkembangan kemampuan membaca Al-Qur'an anak tuli.