Hadis tentang anjuran puasa bagi orang yang belum mampu menikah selama ini lebih banyak dipahami secara tekstual sebagai solusi utama untuk mengendalikan syahwat. Sejumlah penelitian terdahulu umumnya berfokus pada anjuran menikah atau menjelaskan keutamaan puasa sebagai pengendali hawa nafsu, sementara hubungan hadis tersebut dengan riwayat-riwayat lain yang membahas tema serupa belum banyak dianalisis melalui pendekatan intertekstual. Penelitian ini bertujuan mereinterpretasi hadis anjuran puasa bagi orang yang belum mampu menikah melalui studi ma‘ānī al-ḥadīṡ dengan menggunakan pendekatan intertekstual Julia Kristeva terhadap hadis-hadis yang memiliki keterkaitan tema. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan melalui tahapan takhrīj hadis, penilaian autentisitas riwayat, identifikasi hubungan intertekstual antarhadis, serta reinterpretasi makna berdasarkan kerangka ma‘ānī al-ḥadīṡ. Hubungan intertekstual dianalisis dalam bentuk elaborasi, pengkhususan, dan saling melengkapi antarteks hadis sehingga diperoleh konstruksi makna yang lebih utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis riwayat Abdullah bin Mas‘ud tidak menempatkan puasa sebagai satu-satunya solusi bagi orang yang belum mampu menikah. Pembacaan intertekstual terhadap riwayat Abu Hurairah dan Abdullah bin ‘Amr menunjukkan bahwa Nabi memberikan solusi yang berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing sahabat. Puasa dipahami sebagai salah satu instrumen pembinaan spiritual yang dapat dipadukan dengan qiyām al-lail, pengendalian diri, dan berbagai aktivitas produktif yang mengarahkan hati serta pikiran kepada kebaikan. Penelitian ini berkontribusi memperluas pemahaman terhadap hadis anjuran puasa melalui pembacaan intertekstual sehingga menghasilkan interpretasi yang lebih kontekstual, komprehensif, dan relevan dengan problem pengendalian syahwat pada masyarakat Muslim kontemporer.